Topik Mulyana*
Agama-agama besar telah begitu lama, dalam, dan kuat berasimilasi dengan kebudayaan-kebudayaan dunia. Kristen di Barat; Hindu, Budha, dan Islam di Timur. Geertz menyebutkan bahwa salah satu modus operandi agama adalah merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan eksistensi dan membungkusnya dengan pancaran faktualitas (Geertz, 1992: 5). Nilai-nilai agama tersebut telah menjadi pola pikir setiap manusianya yang salah satunya dapat kita lihat dari hasil-hasil kebudayaan yang mereka ciptakan.
Sastra, sebagai salah satu
hasil kebudayaan, pun turut merepresentasikan hal itu. Novel The Old Man and the Sea karya Ernest
Hemingway, mengandung representasi keagamaan yang
mengacu pada agama Kristen. Hal itu tampak pada adegan tokoh lelaki tua
berjalan menaiki garis pantai yang curam sembari memikul tiang yang langsung mengingatkan kita pada kisah penyaliban Yesus Kristus. Di Jepang, representasi agama Budha
sangat terasa dalam, misalnya, novel Kuil Kencana atau
cerpen “Sang Pendeta dan Kekasihnya” karya Yukio Mishima. Di wilayah Timur
Tengah, sastra sangat kental dengan representasi nilai-nilai Islam.
Di Indonesia, kita
mendapati representasi nilai-nilai agama pada banyak sekali karya
sastra, baik secara eksplisit maupun
implisit.
Pada yang eksplisit, kita mendapati simbol-simbol keagamaan, dalam hal ini
Islam, sebagai unsur sentral dalam cerita, seperti mesjid, malaikat, hari
lebaran, jilbab, kiai, santri, hingga sosok Nabi Muhammad.
Dalam perkembangannya
hingga saat ini, sangat sedikit karya
fiksi Indonesia yang menjadikan sosok Nabi Muhammad sebagai unsur cerita.
Barangkali karena Nabi Muhammad merupakan figur paling sakral dalam agama Islam sehingga para pengarang
bersikap sangat hati-hati meskipun dalam wilayah imajinasi. Hal itu juga sangat
mungkin diperkuat oleh sejarah dunia sastra Indonesia dan dunia yang pernah
dihebohkan oleh pemuatan cerpen “Langit Makin Mendung” dalam majalah Sastra pada tahun 1968 dan terbitnya novel Satanic Verses karya Salman Rushdi.
Meski demikian, dan meski sangat
sedikit, karya fiksi Indonesia, dalam hal ini cerpen, tetap memiliki khazanah
itu. Maka, menjadi sangat menarik jika cerpen-cerpen itu ditelaah. Berikut,
coba ditelaah secara sepintas lalu lima buah cerpen yang di dalamnya terdapat
tokoh Nabi Muhammad.
Dalam cerpen “Langit Makin
Mendung” (“LMM”), Nabi Muhammad
ditampilkan sebagai penghuni surga yang gelisah melihat situasi zaman yang
sangat kacau. Setelah para nabi melakukan petisi kepada Tuhan, Nabi Muhammad dipercaya untuk turun
kembali ke dunia (turba) ditemani Malaikat Jibril. Mereka mengubah dirinya
menjadi burung elang agar dapat mencapai tempat-tempat tujuan dan melihat
situasi dengan mudah. Cerita ini kemudian didominasi oleh deskripsi dan komentar narator mengenai
pelbagai masalah yang terjadi di Jakarta pada pertengahan 1960-an. Jadi, kehadiran Nabi di dunia (c.q. Jakarta) tidak
memiliki signifikansi dalam cerita. Baik narator maupun tokoh Nabi berlaku
sebagai komentator.
Barulah pada sekuelnya,
“Hujan Mulai Rintik” (“HMR”), Nabi Muhammad ditampilkan sebagai seorang manusia, seorang pemuda
25 tahun yang miskin dan buta huruf. Sang Nabi bertekad memperbaiki situasi
secara langsung. Dalam perjalanannya,
pertama kali ia mendatangi rumah seorang haji dan berharap mendapat
pakaian dan makanan yang layak. Namun, si haji malah mengusirnya. Sang Nabi pun pingsan
karena kelaparan dan kelelahan. Ia ditolong oleh seorang kader PKI. Ia lantas terlibat dalam
hiruk-pikuk politik praktis. Lalu, dalam sebuah rapat partai, ia dipukuli karena
mengucapkan salam dan dianggap mata-mata Dewan Jenderal. Untungnya, mukjizat
Tuhan masih bersamanya sehingga ia
selamat.
Cerpen ketiga adalah karya K.H. Mustofa Bisri “Ndara Mat Amit” (“NMM”) dalam kumpulan buku Lukisan Kaligrafi (Penerbit Kompas, 2003). Dalam cerpen ini, Nabi
Muhammad hadir melalui pengakuan dua orang tokohnya, yaitu Ndara Mat Amit dan
Pak Min. Dikisahkan, Ndara Mat Amit adalah seorang keturunan Arab yang suka
berbicara kasar dan memaki-maki orang lain. Sementara, Pak Min atau Kang Min adalah
seorang kusir dokar yang bersahaja. Pada sebuah acara mauludan, tepat saat pembacaan syair barjanzi,
Mat Amit dan Pak Min tiba-tiba tersungkur dan menangis meraung-raung.
Diketahuilah kemudian bahwa kedua orang itu melihat sosok Nabi Muhammad hadir di
antara mereka. Diketahuilah bahwa kedua orang tersebut adalah wali
mastur, dua orang saleh yang menyembunyikan kesalehannya. Jadi, walaupun
tidak dihadirkan secara naratif seperti dalam dua cerpen Kipanjikusmin
tersebut, sosok nabi dalam cerpen ini hadir dalam semesta cerita dan memiliki
signifikansi, yaitu membuka jatidiri
sebenarnya dari kedua tokoh tersebut.
Cerpen berikutnya adalah “Buroq”
karya Ratih Kumala (Republika, 2006). Cerpen itu berkisah
tentang Cimeng dan Qatrun yang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad yang
sedang berdiri di atas Buroq pada saat bulan puasa. Cimeng adalah seorang
pemuda tukang tattoo, tukang tindik, dan suka mabuk-mabukan, sedangkan Qatrun
adalah seorang anak kecil yang miskin. Cimeng sendiri merasa amat heran, bagaimana bisa ia yang seorang pendosa bisa mimpi bertemu Nabi
Muhammad. Sementara itu, Qatrun menyikapi mimpi itu dengan kepolosan seorang
anak kecil. Ia menceritakan mimpinya itu kepada teman-temannya dan kepada guru
ngajinya. Karena jawaban guru ngajinya itu tidak memuaskan hatinya, ia pun
berhenti mengaji. Pada akhir cerita diketahui bahwa Cimeng dan Qatrun adalah
dua orang yang sama. Jadi, pengalaman mimpi itu dialami tokoh yang sama pada
waktu yang berbeda.
Jika pada tiga cerpen
sebelumnya, pesan didaktis amat kuat terasa, pada “Buroq” tidak demikian.
Cerpen ini meninggalkan ruang kosong (unbestimtheitstellen) yang teramat besar kepada pembaca. Nyaris tidak ada petunjuk apa pun
yang menjadi sebab mengapa kedua orang itu dianugerahi mimpi bertemu Nabi
Muhammad, terutama Cimeng (Qatrun dewasa). Motif terjadinya mimpi tersebut
sangat misterius.
Kehadiran Nabi Muhammad
dalam “Buroq” lebih tersembunyi daripada cerpen “NMA” karena terjadi di dalam
mimpi si tokoh. Berhubung kedua tokoh tersebut merupakan fokus narasi, upaya
mendeskripsikan sosok Nabi tidak terhindarkan ketika mereka menceritakan
mimpinya itu kepada orang lain. Sang Nabi digambarkan sebagai seseorang yang
tidak jelas rupanya karena diliputi cahaya kuning menyilaukan. Buroqnya pun
tidak seperti gambaran populer (wanita cantik berbadan kuda dan bersayap), melainkan sebuah sampan
yang panjang.
Cerpen yang paling halus
dalam menampilkan sosok Nabi Muhammad—sekaligus paling didaktis—adalah cerpen
berjudul “Jalan Teduh Menuju Rumah” (“JTMR”)
karya Kurnia Effendi (KEF) (Suara Pembaruan, 2005). Nabi Muhammad hadir melalui cerita tokoh aku. Alur dalam cerpen
ini berjalan secara linear melalui tiga fase waktu: (1) saat “aku” menjadi
seorang ayah yang suka mendongeng dengan kedua anaknya yang masih kecil, (2) saat “aku” masih menjadi ayah
namun dengan anak-anak yang sudah berangkat remaja, dan (3) saat “aku” menjadi
seorang kakek. Kisah Nabi Muhammad diceritakan tokoh aku pada fase kedua,
khususnya mengenai kebiasaan beliau menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang
senantiasa memakinya.
Jadi, jika dalam ketiga
cerpen sebelumnya Nabi Muhammad hadir masih dalam semesta cerita, berada dalam satu
bingkai dengan tokoh-tokoh lain, pada cerpen karya KEF ini Nabi hadir dalam
bingkai yang lain: bingkai dalam bingkai. Namun demikian, sosok Nabi dalam
cerpen ini tetap memiliki signifikansi dalam cerita, terutama dalam hal
perubahan karakterisasi tokoh-tokohnya: dari saleh menjadi lebih saleh.
Dari uraian sekilas mengenai keempat
cerpen tersebut di atas, dapat kita lihat tingkat kehadiran Nabi Muhammad dalam
cerita. “LMM” dan “HMR” menampilkan Nabi dengan
sangat profan, manusia “yang mengalami”. Sudah barang tentu, dari segi perannya
dalam cerita, sang Nabi menempati peran sebagai tokoh utama. Pada tingkat
kedua, dalam cerpen “NMM”, Nabi memang hadir dalam dunia, tetapi sebagai roh dan hanya dapat
dilihat (dialami) oleh tokoh-tokoh tertentu yang memiliki spiritualitas tingkat
tinggi. Cerpen “Buroq” menghadirkan sang Nabi di alam mimpi atau alam bawah
sadar tokoh utama. Jika ketiga cerpen sebelumnya menghadirkan sosok Nabi dalam alam kesadaran,
“Buroq” menghadirkannya dalam alam ketidaksadaran. Akhirnya, penghadiran Nabi
Muhammad yang paling halus adalah pada “JTMR”. Ia tidak berada di alam
kesadaran ataupun ketidaksadaran. Jika pada cerpen pertama Nabi adalah sosok
“yang mengalami” dan pada cerpen kedua dan ketiga sosok Nabi adalah “yang
dialami”, pada cerpen keempat ini sosok Nabi adalah “yang dihayati”.
Dari segi representasi
Nabi Muhammad dalam cerita pendek, tampaklah perbedaan yang begitu mencolok
antara cerpenis yang satu dan yang lainnya. Hal ini tentu saja menarik karena
Nabi Muhammad yang satu menimbulkan penghayatan yang pelbagai. Barangkali, hal
ini juga menunjukkan bahwa keberagamaan memang sesuatu yang amat
personal. Nabi Muhammad akan terasa “hadir” bagi kita jika peneladanan
terhadapnya tidak melulu dengan prosedur normatif. Para pengarang telah
membuktikannya dengan melakukan peneladanan itu melalui prosedur imajinatif.
Demikianlah, Islam sebagai
agama mayoritas bangsa ini telah meresap ke dalam pelbagai ruang kehidupan
masyarakat, termasuk ruang kebudayaan. Asimilasi Islam dan kebudayaan di negeri
ini telah terjadi dalam proses yang teramat panjang dengan melalui pergulatan
yang begitu intens. Kalsum (dalam Dangiang III/2002: 97) dengan tepat
menggambarkan hal ini, “Begitu eratnya hubungan antara agama dan seni pada masa
lampau sehingga sulit menentukan apakah yang kita hadapi adalah ajaran agama
yang disajikan dalam bentuk kesenian ataukah kesenian yang dimuati ajaran
agama.” Pergulatan yang intens inilah yang terasa
hilang dalam kehidupan bermasyarakat pada masa kini. Kita tidak lagi mendapati
produk-produk budaya bernapaskan agama (Islam) seadiluhung tembang “Lir Ilir” karya Sunan Ampel, syair
“Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali
Haji, atau kumpulan Guguritan karya Haji Hasan Mustapa.
Produk-produk budaya semacam itu akan membuat agama akan terasa dekat, nyata, dan mewujud dalam kehidupan kita.
*Penulis adalah alumni
Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran; pegiat
Forum Lingkar Pena.


0 Komentar