Balalin
(Sebuah Novel Perjalanan)
Bagian I (Sesi 4)
Sepasang tekuan buluh baru saja melangsungkan hajat asmaranya
di atas pohon Jelutung yang tumbuh menjulang di lembah yang diapit dua bukit
kecil, seberang Kampung Long Simau, ketika kentongan dipukul orang. Si enggang
jantan berkroak persis pada kentongan ketiga. Disusul suara si perempuan. Di
sambut kawanannya dari seluruh penjuru mata angin. Kemudian riuh oleh suara
burung-burung lainnya.
Kentongan itu berasal dari gereja. Dipukul seorang lelaki
setengah tua, seorang pendeta Katolik berambut kriting yang dikirim dari ibu
kota. Sudah 2 tahun ia menetap menggantikan pendeta sebelumnya yang terpaksa
harus dipulangkan dari Long Simau karena sakit-sakitan. Pendeta itu tampaknya
tak punya militansi yang hebat sehingga tak mampu bertahan lama di tengah
kampung yang udik. Ia sering absen saat jemaah membutuhkannya. Satu bulan ada
di kampung, satu bulan meninggalkan kampung.
Penggantinya Pendeta Boro. Ia memang tak menetap terus di
Long Simau. Tapi pada Sabtu sore ia akan datang ke Long Simau untuk memimpin
ibadah pada hari Minggu. Kalau sedang berkenan ia akan menginap barang satu
atau dua malam di rumah Patriskiting. Sebaliknya jika enggan maka minggu sore
ia akan pulang berketinting ke rumahnya di ibu kota kecamatan. Pulang sore lalu
tiba malam, 4 jam perjalanan. Pulang dengan perahu sarat oleh barang bawaan.
Hasil kebun dan hutan yang selalu disiapkan orang-orang. Kadang membawa daging babi hutan atau payau. Atau ikan-ikan
sungai yang ada di hulu kampung. Ikan
pelian, baung, atau tembaring.
Anak-anak lebih awal datang. Berkerumun di depan pintu
gereja. Gereja itu, tidaklah menyerupai banguan layaknya gereja yang ada di
kampung lain, yang letaknya tak terlalu
jauh dari kota. Gereja itu hanya sedikit lebih besar dan bagus dibandingkan
dengan pondok orang-orang kampung. Bertiang dan berdinding kayu dengan atap
kirai. Berbentuk persegi panjang seluas 7 x 11 meter. Satu-satunya penanda
bahwa itu gereja adalah salib pada tiang setinggi 3 meter. Dibuat dari kayu
ulin bersamaan dengan pembanguan gereja itu. Gereja itu dipakai juga oleh
anak-anak sekolah. Ada 25 anak yang semestinya bersekolah dengan baik seperti
anak-anak sekolah di kampung lain. Hanya karena keadaanlah yang menbuat mereka
harus bersekolah apa adanya. Dalam
seminggu paling hanya dua atau tiga hari mereka sekolah. Diajarkan membaca dan
berhitung oleh dua orang guru kontrak. Sesekali
Pendeta Boro ikut memberi pelajaran. Sisanya, hari-hari anak-anak
habiskan untuk pergi ke sungai, kebun atau ke hutan berburu binatang kecil yang
dagingnya bisa mereka makan. Pada musim buah, anak-anak berburu buah-buahan.
Durian, kelempesi, meritam dan beragam buah yang bisa dimakan.
Pendeta Boro melihat-lihat jemaah yang sesak memenuhi
gereja. Ia merasa kehilangan seseorang yang biasanya datang lebih awal dan
duduk paling depan, Patriskiting. Lelaki itu tak nampak. Tak ada kabar
disampaikan anak atau tetangganya. Padahal kalau ia sakit atau sedang pergi,
selalu ada kabar. Hingga ibadah selesai Patriskiting tak juga muncul.
Orang-orang pun heran dan tak pernah tahu kemana lelaki tua bertubuh ringkih
itu pergi. Termasuk anak perempuannya, Tening.
“Waktu kami mau
tidur masih ada. Duduk di depan. Pagi-pagi saya sudah tak melihatnya. Saya kira
pergi ke sungai atau kemana,” terang Tening dengan raut muka cemas.
Bubar dari gereja, sebagian orang-orang berhambur mencari
Patriskiting. Sebagian pergi ke hulu dan hilir sungai. Sebagian ke kebun dan
ladang tempat Patriskiting biasa bekerja menghabiskan waktu sehari penuh.
Hingga tengah hari pencarian tak membuahkan hasil. Tening sudah terisak di
ruang tengah rumahnya. Di kelilingi para perempuan. Para lelaki berkerumun di
halaman rumah.
Yang mereka khawatirkan Patriskiting jatuh di sungai dan
hanyut. Kebetulan air sungai sedang deras setelah seminggu ini hujan turun tiap
hari. Debit air Sungai Mau nyaris mencapai tepi. Para lelaki itu pun berembuk
dan memutuskan untuk melakukan pencarian ke hilir sungai. Dengan harapan,
seumpama nasib buruk memang menimpa Patriskiting, jatuh ke sungai dan
tenggelam, pada hari itu juga mayatnya bisa diketemukan. Tanpa harus menunggu 3
hari sampai mayat itu mengapung ke permukaan air. Akhir pencarian hari itu
diputuskan sampai ke Giram Belalau—giram terdekat dari kampung, satu jam
perjalanan dengan ketinting. Giram Belalu sangat ditakuti. Orang kampung yang
lewat, apalagi saat air sungai kecil, tak ada yang berani melewatinya dengan
perahu hidup. Perahu harus dimatikan dan diseret dari bebatuan di tepi giram
tersebut. Jika perahu bermuatan banyak, muatan akan diturunkan lebih dulu.
Kecelakaan pernah merenggut sepasang pengantin baru yang hendak pergi ke
kampung tetangga. Berperahu berdua melewati giram yang dikiranya bisa dilalui
tanpa harus mematikan dan menyeret perahu. Perahunya karam tersedot pusaran air
dan keduanya hanyut. Kepandaian berenang yang dimiliki keduanya sejak kecil tak
mampu menandingi derasnya arus.
Para pencari pulang menjelang petang dengan wajah cemas.
Tening tak putus menangis. Pendeta Boro memimpin doa keselamatan di gereja.
Lalu bubar setelah doa selesai dan berkumpul di rumah Patriskiting hingga
petang tertimbun malam. Patriskiting diyakini hilang. Kemungkinan paling besar,
jatuh dan hanyut dibawa arus sungai. Orang-orang sudah sepakat melanjutkan
pencarian besok pagi.
Amat Kirut dan Jale Unyat duduk memisahkan diri dari
kerumunan orang-orang yang berkumpul di rumah Patriskiting sejak lepas petang.
Keduanya duduk di balakang rumah, di tempat Patriskiting membuat perapian pada
malam atau menjelang malam.
“Ada yang mau aku ceritakan,” kata Amat Kirut setelah
selesai membakar lintingan tembakau seks.
“Soal apa? Rencana besok?”
“Bukan, ini lain lagi,”
“Apa?”
Amat Kirut menggeser duduk mendekati Jale Unyat yang
duduk bersandar pada pohon lansat.
“Aku menemukan anjat di hilir,”
Jalu Unyat tertawa
“Ah, kukira soal penting. Begitu saja kamu cerita?”
potong Jale Unyat.
“Berisi baju anak perempuan,”
“Hmm…kamu ambil?”
“Ya,”
“Buat apa?”
“Siapa tahu itu barang curian,”
“Di mana sekarang?”
“Kusimpan di belakang rumah,”
“Kamu tahu baju milik siapa?”
“Aku curiga punya Ilung. Sebab aku pernah lihat baju itu
dipakainya,”
“Terus?”
Amat Kirut diam. Jale Unyat bergerak mendorong kayu bakar
ke tengah perapian yang mulai redup. Bunyi gemeletek kayu terpanggang bara
terdengar beberapa saat kemudian disusul nyala api. Jale Unyat mendekatkan telapak
tangan ke dekat api menyerap hangat agar menjalar ke tubuh. Hawa dingin dari
arah hutan di seberang sungai mulai meresap ke tubuh.
…
Para lelaki yang berkumpul di rumah Patriskiting, sedang
berkerumun mengelilingi perapian ketika sosok lelaki ringkih muncul dari balik
kegelapan. Berjalan tenang tanpa kesulitan oleh gelap yang menutup seluruh
penglihatan. Ia heran melihat orang-orang berkerumun. Ada perapian dan sisa
minum-makanan di meja kayu dekat kaki pondok. Adalah dengus dan bunyi kaki
anjing hitam—yang menemani perjalanan lelaki itu, yang pertama kali menyadarkan
para lelaki atas kehadiran seseorang yang seharian meresahkan mereka.
Salah seorang dari lelaki yang berkerumun spontan
bangkit, berdiri lalu berbalik ke arah datangnya suara binatang yang sudah
dipastikan siapa majikannya.
“Patriskiting,” lelaki itu bergumam setengah berteriak.
Lelaki lainnya serempak menoleh dan memburu lelaki yang kini berdiri di hadapan
mereka dengan wajah yang sangsi. Betulkah yang datang adalah Patriskiting dalam
wujud sebagai manusia? Ataukah hanya rohnya?
“Kenapa kalian berkumpul di sini?”
“Kami menunggumu,”
“Seharian kami mencari di sungai. Kami takut uku sakit
dan jatuh di sungai,”
“Kami cari ke kebun dan ladang tak ada. Tening tak tahu
kemana,”
Patriskiting melangkah masuk rumah. Ke dalam kamar untuk
menyimpan bujak yang dibawanya. Lalu kembali ke ruang tengah rumah menghampiri
para lelaki yang segera berkerubung mengelilingi.
“Saya hanya pergi ke Marut. Melihat rumah nenek-moyang
kita di sana. Sudah lama tak pernah saya lihat,” kata Patriskiting.
“Mengapa tak mengajak kami? Bukankah kita bisa sama-sama
ke sana,”
“Saya juga tidak merencanakan. Hanya tiba-tiba saja ingin
ke sana malam itu. Saya menunggu sampai menjelang pagi, lalu berangkat,”
“Walau pagi walau malam,
bisa mengajak kami. Tak susah kan?”
“Ya sudah, maafkan orang tua ini. Sudah merepotkan
kalian,”
“Lain kali bawalah kami ke mana pun maksud dan tujuan,”
Orang-orang bubar setelah yakin atas kehadiran
Patriskiting. Yang keletihan sehabis melakukan pencarian, langsung tertidur
lelap. Tening memeluk bapaknya sambil terisak. Kali ini merasa lega.
Bayang-bayang buruk mayat bapaknya terapung di sungai sirna.
Patriskiting tak menjelaskan tujuan kepergiannya malam
itu. Tapi orang-orang yakin ada sesuatu yang sangat penting yang membuat lelaki
itu harus bergegas melongok kampung leluhur mereka di Hutan Marut sana. Long
Simau malam itu lebih sepi dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya.
Anjing-anjing yang biasanya menyalak sesekali, malam itu tak terdengar. Seperti
orang-orang, mereka pun keletihan setelah hampir seharian ikut dengan
majikan-majikannya melakukan pencarian. (Sesi 4)


0 Komentar