Saya dan Cello Betot
Dalam perjalanan kehidupan masing-masing orang, tentu ada
sesuatu yang sangat membekas di luar soal berumah tangga, beranak dan
mudah-mudahan berbahagia 1). Pun begitu hidup saya. dulu saya belajar menulis
puisi bertahun-tahun hingga kini, tetapi menjadi seperti sesuatu yang lumrah
saja, seperti sebuah respon cepat ketika haus harus minum atau ketika lapar
harus makan, meskipun minuman dan makanannya belum tentu tersedia.
Saya juga pernah bertindak baik, pernah bertindak benar,
pernah dituduh, pernah dijerumuskan, pernah berkorban, pernah bertindak buruk,
bertindak salah, pernah menuduh, pernah menjerumuskan, dan juga pernah
mengorbankan. Ingatan terhadap seluruh tindakan yang berangkai itu akhirnya
seperti sesuatu yang hanya rutin, seperti semestinya terjadi dalam menjaga
kehidupan diri.
Tetapi, ada satu yang terus menguntit hingga sekarang,
berawal dari berkenalan dengan cello
betot keroncong, kehidupanku bergeser menjadi lebih lembut dan
cenderung utopis terpengaruh berat syair-syair keroncong yang selalu mencari
nikmat bahagia, apalagi bila: terang
bulan bersunyi diri/ renungkan/ tumpah darah nan kaya berseri 2). Kegandrungan terhadap cello betot sejak pertama kali
diperkenalkan oleh teman-teman little
keroncong (Lucky, Nana, Mahaguru Ade) membuat saya setiap
hari belajar "nabeuh" cello betot dengan irama yang sangat
membosankan.
Kadang-kadang sambil dimerdu-merdukan dalam teriak: indah
tanah airku/ indonesia raya/ pujaan hatiku 3) atau berusaha pelan dan syahdu
hanya engkau/ surya untuk/ kehidupanku 4). Pagi, siang, sore, malam, subuh
terus berulang seperti mesin penggilingan gula di musim panen tebu. Setelah 7
bulan, jempol, jari telunjuk, dan jari tengah tangan kanan dan kiri mulai
kapalan, saat itu sambil berdendang mulai tidak kehilangan ketukan.
Karena merasa perlu mengenali lebih mendalam tentang
keroncong dan cello betot, sebagian waktu kemudian saya gunakan untuk nongkrong
di perpustakaan Jassin di Cikini, selain berburu kaset di Cihapit. Menemukan
tulisan tentang keroncong rasanya menyenangkan sekali, tak lupa kemudian
menggandakan untuk dibaca di saat-saat ketika dibutuhkan.
Ada perdebatan tentang kebudayaan nasional di majalah
Pujangga Baru tahun 40-an dan Armijn Pane menuliskan bahwa salah satu bentuk kebudayaan nasional wujudnya
adalah keroncong dengan alasan karena lebih mewakili keindonesiaan dibanding
gamelan. Menurut Armijn, pada msa itu, keroncong dimainkan dari Maluku hingga
Malaka. Ada juga tulisan tentang asal-usul kata Morisko di majalah Basis yang
diambil dari kata moor yang bisa ditafsirkan pada mulanya adalah jenis alat
ukulele yang digunakan para gipsy moor sekitar Spanyol dan Portugis.
Ada tulisan tentang pola perkusi pada musik keroncong
melalui cello dan dugaan orang yang pertama kali memainkannya. Sayangnya,
karena pada masa itu saya masih berburu dan meramu, belum menetap dan bercocok
tanam, dokumen-dokumen itu menghilang bersama pasang surut kehidupan.
Sedikit demi sedikit, semua lagu keroncong berusaha saya
dengarkan dengan teliti, mulai dari lagu-lagu yang judulnya menggunakan
singkatan Kr (Keroncong), Stb (Stambul), hingga Lgm (Langgam). Saya berusaha
memahami bahwa semua lagu bisa dimainkan dengan instrumen dan irama keroncong,
tetapi kalau berdasarkan jenis lagunya ada yang dinamai keroncong, langgam,
stambul, dan ekstra (menurut kategori almarhum Koesbini). Masing-masing jenis
ini memiliki pola pergerakan akord yang
berbeda.
Jenis lagu Kr merupakan jenis lagu yang paling awal,
kemudian Stb mulai ada ketika tonil berkembang di Indonesia (Menurut Boen S.
Oemarjati, tonil ini merupakan cikal-bakal drama modern Indonesia), dan Lgm
berkembang ketika irama keroncong memainkan pop pada masanya dan lagu-lagu langgam dari berbagai daerah. Sedangkan, lagu-lagu yang disebut ekstra ini biasanya
sumbernya dari lagu daerah Betawi seperti "Jali-jali", "Cente
Manis", dan lain-lain yang kalau dari pola lagunya tidak bisa
dikategorikan ke dalam tiga kelompok sebelumnya.
Suatu hari, saya pernah berdebat panjang dengan beberapa teman yang secara bersamaan belajar instrument
lain dalam keroncong , mengenai lagu Kr. Pertemuan dari Koes Ploes.
Pada dasarnya, kami sepakat bahwa kalau dari pola lagunya, Kr Pertemuan ini
harusnya ditulis dengan Lgm Pertemuan. Hanya saja, kami tidak sependapat
tentang kemungkinan sebab dari penamaan Kr dan bukan Lgm itu.
Salah satu teman
berpandangan bahwa ada kemungkinan Koes Ploes sangat memahami irama keroncong,
tetapi tidak sampai mendetail soal pola lagunya, sehingga ketika membuat lagu
"Pertemuan" kemudian disematkan Kr didepannya karena menggunakan
irama keroncong. Saya ngotot berpendapat bahwa ada kemungkinan Koes Ploes
sangat memahami jenis-jenis pola lagu dalam irama keroncong.
Pelabelan Kr pada lagu Pertemuan tersebut adalah tindakan
disengaja supaya orang yang memahami keroncong bisa protes atau melakukan
kritik lainnya. Pada akhirnya, saya dan teman-teman sepakat juga bahwa hanya Koes
Ploes dan kura-kura yang tahu karena: tlah
dibulatkan maksudnya/ berjanji dengan kasihnya/ melepas dunia remaja/ untuk
hidup bersama 5)
Pada malam-malam tertentu, kadang terdengar di kalbuku: suara yang merdu/ berayun-ayun bergelora
6). Kadang ingin
rasanya naik ke puncak bukit dan berdendang: teduh sunyi damai tenang/ telaga sarangan/
indah bukan buatan/ pemandangannya untuk bertamasya 7). Atau menghikmati malam di Kota Bandung sambil
berdendang lirih: terdengar suara seruling bambu/ gita malam nan merdu merayu
8). Sejatinya,
bagi saya, bermain dan bernyanyi keroncong adalah layaknya bertamasya. Menenggelamkan diri ke ranah-ranah yang mengasyikan
dengan pukan lanskap yang tiada bandingannya.
Di awal-awal, seseorang yang sampai saat ini sangat kuhargai
perannya adalah Sony Soeng, pemilik Toko You di jalan Hassanudin Bandung. Dia
menyediakan restorannya untuk kami berlatih kapanpun dan menyediakan makan
minum sesudahnya. Kami juga pernah dikontrakkan rumah, menyediakan VW dan sopir
terpercayanya (Mr. Paul) untuk
mengangkut kami kemanapun bila dibutuhkan.
Selain itu, telinga kami juga dibombardir berbagai koleksi
musik yang unik-unik sehingga mata telinga kami meluas. Kadang di malam
tertentu, ada salah
satu pemusik yang
tinggal di Toko You, sering ikut memukul jimbe bermain bersama komposisi kami. Bahkan suatu hari kami dikenalkan dnegan seseorang
yang hendak merekam keroncong kami untuk persembahan hadiah ulang tahun buat
bapaknya, selain sebagai dokumen bagi kami.
Kami rekaman di tempat beliau dan yang membuat kami tak
sanggup berkata-kata ternyata
dibalik kaca kami melihat Alm. Hoegeng (Mantan Kapolri) waktu itu duduk di kursi roda
sambil berlinang air mata melihat kami memainkan lagu Kr. Tanah Air. Saya
bersyukur dalam kehidupan saya pernah melihat beliau meneteskan air mata buat
kami, orang yang bersih dan kuat di negeri ini, pernah kami lihat air matanya
gara-gara kami yang berangasan memainkan keroncong. Semoga selalu damai beliau
bersamaNya, semoga anak keturunannya dalam kemudahan.
Kami juga pernah ditawari memarodikan lagu Gerimis
Mengundang menjadi Gerimis Mengundang Kebakaran dengan kostum yang nyeleneh dan
diedarkan di televisi. Sayangnya, kami sepakat untuk menolak. Kami lebih suka
bermain untuk kawinan temen-temen, sunatan
anak teman, pasar seni, pameran lukisan, aksi damai, aksi bhinneka,
pertunjukan teater, pergantian Pemred, dll. Kami terbiasa bermain musik
mengiringi orang-orang makan, sedangkan kami akan makan paling akhir. Dalam
perjalanan kemudian, banyak sekali hal yang kami lakukan ini bersama keroncong
ini dimulai dari belajar cello betot. Dan sesungguhnya, dendang itu, akan
selalu digumamkan hatiku: selama
sisa hidupku, sebelum aku mati 9).
Sungguh.
*Kartawijaya, Lulusan Sastra Indonesia Unpad, selain menulis puisi juga bermain keroncong.
1) petikan dari puisi Ahasveros karya Chairil Anwar yang
aslinya: akhirnya kau menikah/ beranak/ dan berbahagia
2) petikan dari lirik Kr. Tersenyum karya Gesang
3) petikan lirik Kr. Tanah Air karya NN
4) petikan lirik Kr. Hanya Engkau karya NN
5) petikan lirik Kr. Pertemuan karya Koes Ploes
6) petikan lirik Lgm. Sukma Berbisik karya A. Zaelani
7) petikan lirik Lgm. Telaga Sarangan Karya Ismanto
8) petikan lirik Lgm.
Bandung Selatan Karya Ismail Marzuki
9) petikan lirik Lgm.
Sebelum Aku Mati karya Gesang



0 Komentar