Sajak-sajak Dramatic Reading
Dar(l)ing
Hari
Kamis sungguh menyiksa seisi rumah. Istriku sering menyeringai girang kepalang
alang. Mengapa tidak?
“Say, hapeku burik, ga muat video gerakan olahraga Si Bungsu!”
Aku mencangkung keyboard komputer saja sambil mencangkul abjad-abjad menyusun tanda lebam.
“Ayo, Dik, ikuti gerakan Bunda!” (Kulihat selintas di layar transmisi elektronik itu gerakan kaku anak laki-lakiku menarasikan pemanasan seluruh anggota tubuh --dari kaki, badan, sampai kepala).
“Tuh, kan habis memorinya, padahal baru 1 menitan. Apalagi yang harus dihapus?” (menyeringai gerutu merebu imaji harap)
Kami seperti hari Kamis yang dikemas mirip dadar guling siap dimakan kenyal oleh mesin kecerdasan kalkulusi. Anak laki-lakiku meringis kena damprat bibir tipis nonlipstsik. Dia selalu salah menyusun lagu tubuh.
“Pusing, pusing, pusing...!“ (GubrakI Hape itu terpelanting mencium dasar lantai rumah)
Pagi menyingsing. Ribuan konten belajar daring seperti anakku menyungai sungsai dalam imaji galau Indonesia: Sang Sakau kepincut Si Maya bersikukuh dengan jutaan unggah dan unggah ulang. Tapi, kami menganggapnya hiburan, semacam selingan keluarga utuh. (Ya, selingkuh itu memang perlu)
Istriku memungut hape terjatuh itu, lalu mengunggah video belajar tak selesai dengan caption:
“Maaf, Pak Guru, konten videonya berseri.” (Terbaca hastag:)
#Merahputaudadaku
#Putihbalauharapmu
Mangkubumi, 10 Agustus 2021
Positif
(Ada
Kabar dari teman dekatku, Si Nganu di
kota itu positif)
Entah kebetulan atau kesengajaan terencana, dia mem-vicall. Kawan lama tak jumpa.
(Aku sepikles, tak tahu apa yang mesti ditanggapi)
Semua
percakapan bergerak serentak dan berdecak pada kenangan ganjil semester genap
akhir kuliah. Bergeragap tak bersitemu pandang.
“Eh, Zar, kamu jangan main-main sama virus ini! Dua minggu kemarin persendianku seperti ditimpuk batu-batu burung Ababil. Nutrisi kurang; makan ga enak; tengggorakan kelu, batuk-batuk lagi.”
(Simpati terbawa jaringan internet berselancar tanpa tuju. Empati mendadak dungu. Mungkin, aku syok berat!)
“Bali
sepi, Zar. Ga ada keramaian pasar dan kerumunan kesenian,’ lanjutnya. “Ada
barang satu, dua, tiga pelancong bule. Muda belia. Tapi, mereka kayaknya ogah pake masker.”
(Aku semakin keles. Kata-kata seperti tersendat mengalir, hanya sebatas lidah kaku)
“Oh
ya, Zar, bagaimana kabar keluargamu? Sehat-sehat toh?”
Byar!!! Aplikasi terhenti. Obrolan kami terputus. Mungkin satuan jam tak ramah dengan digital yang hitungannya kapital.
(Dan mungkin juga kuota dataku hampir habis)
Di layar elektronik, Si Cerdas Mesin Kalkulasi menyodorkan pertanyaan, “Apakah kualitas layanan kami lancar?” Lalu, tanpa pikir panjang, aku klik tanda bintang yang kelima.
(Kabar lain terbaca dari grup dalam aplikasi berbagi pesan)
Si Ngana, tetangga perumku meminta izin isoman sekeluarga di rumahnya.
(Kabar lain terunggah dalam featured image akun sosmed berbagi video)
Si Ngene mengajukan dispensasi kerja karena hasil tes usap cepat dinyatakan positif.
(Kabar lain datang dari pesan pribadi istriku)
“Di rumah aku sebetulnya mengajukan kabar positif buatmu, Say. Tapi, aku menampik ingin.”
(Lanjutnya)
“Negatif aja ya, Say. Kan konsensus dalam pemilu virus!” sambil menyertakan stiker emoticon Si Bulat Kuning bermulut mengulum gambar love.
(Kabar akhirnya terngungun di enkripsi end to end)
Jempol kiriku mengeklik camera. Sebuah caption swafoto kutambahkan, Aku kangen matamu yang tetiba binal.
Mangkubumi, 11 Agustus 2021
Aplikasi
“Yah, sekarang jadwal ngegame”,
pinta anakku.
(Jarum jam pendek menempel pada
angga 11)
“Hot spot Yah ke Si
Bunda!” Rajuknya.
(Seperti biasa, kuota data kami
isi bergiliran)
“Cepet Yah, mana hape Si
Bunda?”
(Dari balik pintu kamar, Si Bunsay nongol. Gigi taring masih basah liur kecut sesampai mencarikan jawaban soal bahasa Indonesia:
Selalu dan selalu endingnya: Si
Bungsu berderai air mata karena mendapati seorang guru dadakan yang galak!)
“Adik, tugas hari ini belum
beres!!!” (Nada sarkas )
“Atuh, Bun, kan harus
istirahat dulu”
(Di layar digital transmisi
elektronik, sebuah garis horizontal bergerak dari kiri ke kanan; di bawahnya
terbaca sedang mengunduh; dan dengan
latar gambar khas tertera sebuah aplikasi game
Free Fire)
Biodata Penulis:
Nizar Machyuzaar, pembelajar tekstologi dan strilistika, selain membuat kuliner tutug oncom, tinggal di Mangkubumi


0 Komentar