Aris Setiyanto*
Yang Terus Mengenang
Kursi kayu di remang hatiku
Kini akan aku nyalakan pula
Lilin berdebu nan utuh
Pada desau yang melagu kesepian
Menghitam, mati dan karam
Namun tak dilupakan
Menentang harapan setinggi swarga
Hidupku tersia tanpa sekalipun
Terkabul, lambai tangan lembutmu
Di ujung bandang kali di mataku
Melewati kanal kenang
Yang terus mengenang
2020
Hilang
Kota-kota bakal lumpuh
Kita batal arungi biruabu sewarna
Langit. Pekakkan netra pada saban
Hentian, kursi-kursi di dahan hidup
Berguguran menapaki
Bumi ari, ditelungkup nestapa
Gurindam cintaku masih
Gurik hati nan kosong ini
Karamkan yang ditanggal
Usah bersua jelaga yang mentari terbitkan
Sebab, hilang aku menemu pusara
Menunggu pembangunan jasad
2020
Di Ambang Nestapa
Di manakah masa yang penuh perleburan
Itu, bulan suci kembangkan kembang jalan
Hujan nestapa yang berarak dari negeri Cina
Akankah kini salju putih menelungkup langit kita
Misal kita tak menjelangi rumah Tuhan, seribu bulan
Sungguh pelik. Kami menyelami pusara sendiri
Sang malam penuh gema ayatullah
Berbondong-bondong mengepul maaf pun, juga...
2020
Debur Langit
Debur untai tiap terkata
Aku ingin pulang masa lalu
Menilik diriku yang kecil
Tak terjamah dosa apapun
Hanya ketika pagi menjadi buta
Aku di pojok ruang
Di bawah hijaunya meja
Saf-saf kitabullah itu kulewati
Mata merah seekor kucing
Berapa pasang lagi sepatu termakan masa
Misal tukang-tukang itu menganggur,
Akankah biru langit akan terbit?
Saat aku membuka tirai harap
Masih aku temukan kelam
Mendung atau malam,
Aku rindu banyak tergantung di atas sana.
2020
Di Altar Kenduri
kenangan berserak di altar kenduri
aku menemukan aroma perjuangan
pada jalanan berbatu
runcingnya melamar bokong pejuang
serangkai permen santen
adalah penanda
pulangnya ayah
aku menerawang sekali lagi
kepada yang riuh akan gelak tawa
kutemukan isi dadanya melambai
sembari tawarkan bebuah masam
lalu, wanita itu pulang
betapa pun jauhnya
tak pernah sekalipun
ia kecup jalan nan pintas
Jampirejo, 2021
Amsal Kehidupan
tetiba ia menyekat leherku
mengantar untukku, pusara
liang paling lengang
sebelum langkah kerabat
menjauh
tetiba ia antar aku
ruang persegi
berselimut karbol
menusuk-nusuk nadiku
membantun segenggam darah
tetiba ia basahi aku
seusai terkungkung
sebelum patah sadarku
patah pula mataku
gulita, selimut ragawi
andai anak Tuan itu bicara,
kulempar kepadanya sesungging senyum
ia lempar pula kepadaku
senyum, walau tak jujur
kuusir lalat-lalat jalang
kutelan batu-batu umbi
lambung pun,
usai berdendang.
Jln.Sakura no.42, 16 Januari 2021
Kini Kau Ada Di Mana
hari-hari bagai jam
melipat detik
kubawakan kepadamu
buah-buah selimut fitrah
kunikahi gigil pagi
sebelum cahaya
jalan ini lengang tanpa kata
kunanti kau berkisah
di ujung tumpukan lelahmu sendiri
"seusai mengasuh rindu,
moyangnya memintaku jatuhkan diri
sekalipun, di ketika itu
sayap asaku patah"
kata perpisahan
adalah kata
tak pernah diutarakan lambai tangan
kini,
aku rasuki gerimis
dalam ketidakberanian
inginku tinggal
tapi peraduan terjungkir
dari altar-altar sunyi.
Jln.Sakura no.42, 18 Januari 2021
Siang Ini
siang ini saya tidak makan
di meja budak, di
tempat sampah,
di semua tempat
paling menjijikkan,
tidak saya temui
sebutir nasi
tinggal lambung
yang cemberut.
Jln.Sakura no.42, 18 Januari 2021
Mengenal
kularungkan tangan ini
agar berlayar
—agar berlabuh
di pulau garis jarimu
ketika itu, mentari rekah
tetapi sinarnya
kemana? entah di mana.
Jln.Sakura no.42, 21 Januari 2021
*Biodata: Aris Setiyanto lahir 12 Juni 1996. Tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Menyukai anime dan idol. Juara 3 lomba cipta cerpen Kopisisa 2019, juara harapan 2 lomba cipta puisi 2019 dan Juara 3 lomba cipta puisi Kopisisa 2020. Buku puisinya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas", diterbitkan oleh Tidar Media(2020). Karyanya termuat di; Majalah Kuntum, Koran Purworejo, Koran BMR FOX, Majalah Raden Intan News dll.


0 Komentar