Cerita Pendek Topik Mulyana*
“Ukhyar, anakkuuuuuu!” Nini Isah berseru
melihat anak bungsunya itu.
Fakhri amat takjub. Ukhyar tak hanya masih
hidup, tetapi juga tampak segar bugar. Dan tak hanya itu, wajahnya bersih
bersinar ditempa sinar matahari tengah siang itu. Ditambah lagi dengan pakaian
yang dikenakannya. Uhkyar mengenakan baular lutut[1],
pakaian kebesaran para gusti[2]
yang dulu sering ia lihat di upacara-upacara pernikahan tertentu. Badannya yang
takberbaju dihiasi roncean melati yang melingkari leher, disambung untaian yang
tegak lurus di depan dadanya, lalu tepat di atas pusar, untaian itu bercabang
yang masing-masing berujung di kedua belah pinggangnya. Mahkota amarnya
gemerlapan. Warnanya kuning emas murni. Roncean mawar dan melati di bagaian
samping amar[3]
menjuntai melewati telinga hingga ke pundaknya, menebarkan wangi yang tajam.
Demikian juga dengan orang-orang dari
keluarga besar Ukhyar. Mereka bergeming demi menyaksikan sosok Ukhyar yang tampak
agung. Saling pandang sesama mereka, pengganti kata-kata, “Benarkah itu
Ukhyar?”
Hanya Nini Isah, yang berani menghampiri
Ukhyar. Ia seperti tak terpengaruh dengan penampilan Ukhyar. Ukhyar pun meraih
tangannya, menciuminya dan memeluknya dengan lembut dan khidmat. Sebuah
perilaku yang takbiasa. Mereka tahu, Ukhyar sayang Nini Isah. Tapi tidak dengan
cara yang seperti itu. Namun, melihat perilaku Nini Isah, ketakjuban mereka
sedikit demi sedikit cair. Mulailah satu per satu menghampiri dan menyalaminya.
Kakak-kakaknya, paman-bibinya, sepupu-sepupunya, juga keponakan-keponakannya.
* * *
Ukhyar anak bungsu Nini Isah dari tujuh
bersaudara. Juga satu-satunya yang masih lajang. Ukhyar seorang pemuda yang tampak
hidup seenaknya. Sering mengenakan kemeja belel yang bagian atasnya tidak
pernah dikancingkan. Rambutnya agak gondrong dan kusut, sepertinya tak pernah tersentuh
sisir. Matanya merah, seperti mengantuk, tapi sorotnya tajam. Kulit mukanya
yang gelap itu sering pula terbakar matahari, tambah kusam dan bau ari. Sukanya
berjudi dan menenggak minuman keras. Seandainya ia tak rajin bekerja, tak rajin
berderma, suka berbuat onar, dan suka main perempuan, tentu ia sudah jadi aib
keluarga. Meski penampilannya tampak marigat[4],
kejujuran dan kemurahan hatinya membuat ia dihormati banyak orang. Tak segan
menolong orang kesusahan, apalagi terhadap keluarga. Hal ini pula yang membuat
para tim sukses pemilihan kepala daerah selalu berlomba-lomba merekrut Ukhyar.
Sebagai pemuda yang tak bisa diam di rumah,
Ukhyar punya banyak sahabat. Ia pandai bergaul dan pandai membisniskan barang apa
pun. Hal itu membuat pergaulannya luas. Menyeberang ke Jawa atau Sulawesi
seringlah dilakukannya. Dari bisnis batu akik hingga ulat bumbung takpelak
dilakoninya. Orangnya pun lempang. Jika merugi, ia tak uring-uringan, apalagi
berputus asa. Jika beroleh untung, ia bagikan ke ibu, saudara, juga tetangga
yang kesusahan; sisanya dipakai berfoya-foya. Seandainya tak suka berjudi dan
minum-minum, hidupnya sedikit lebih tertib dan teratur, tentu ia sudah jadi
orang kaya.
Dan teman minum paling setia adalah Fakhri,
si bekas atlet yang kini jadi pedagang daging ayam. Fakhri juga kawannya dari
TK hingga SMA. Jika Ukhyar sedang tidak bepergian, hampir tiap malam mereka
minum-minum di markas organisasi pecinta alam binaan Fakhri. Terkadang mereka
dikawani pemuda-pemuda lain yang tergabung di organisasi itu. Namun, seringkali
mereka berdua saja. Acara itu tambah “khidmat” jika Ukhyar baru kembali dari
Jawa dan membawa minuman yang mahal-mahal, seperti vodka atau whisky.
Sebenarnya, Ukhyar bukan anggota organisasi
tersebut. Namun, Fakhri sering mengajaknya naik gunung atau turut jadi tim
official di acara Pekan Olahraga Daerah Tingkat provinsi. Yang paling disukai
Ukhyar adalah diajak ke acara aruh[5]
adat Dayak Meratus di Hantakan. Acara judi adat menjadi tujuannya. Arena judi
sebesar lapangan sepakbola mungkin seperti surga baginya, ditambah suguhan
bergelas-gelas arak yang tanpa henti. Terkadang ia datang ke acara aruh dengan
modal sebatang ponsel android terbaru, lalu pulang menggondol sekarung. Kadang
juga sebaliknya, datang dengan sepeda motor masing-masing, pulangnya Ukhyar
dibonceng Fakhri karena motornya raib akibat kalah judi.
Di samping itu, Ukhyar sering membantu
organisasi itu dengan berbagai cara. Dari melobi pihak-pihak dewan atau pemkab
untuk mendapat dana hingga tawar-menawar dengan para produsen perlengkapan
pecinta alam di Pulau Jawa. Untuk itu, ia tak pernah meminta persenan. Jika pun
diberi, ia langsung menyuruh salah seorang junior Fakhri untuk dibelikan
minuman, rokok, atau makanan untuk dimakan bersama.
Di Kota Kabupaten Sungai Tengah itu itu,
Ukhyar satu-satunya pemuda yang dikenal bukan karena pekerjaannya. Ada Amat
Kambing si pedagang dan penyembelih kambing, ada Taslim yang terkenal dengan
mie gorengnya, Acil Ipau dengan kue-kue keringnya, Haji Zarkasyi si juragan
ikan, Tuan Guru Muhdi ahli pijat tulang dan pengobatan alternatif, Polisi
Sutarno si Bapak Kapolres, Koh Yap si Tukang Gigi, dan banyak lagi. Ukhyar
dikenal karena dua kebiasaan bertentangan yang melekat padanya. Dia peminum,
penjudi, penampilannya marigit, dan jarang sembahyang, tapi jujur, pintar,
bagus hasil kerjanya, dan dermawan.
Maka, begitu mendengar Ukhyar termasuk
korban tenggelam klotok di Sungai Nagara, Kabupaten Sungai Utara, gegerlah
warga Sungai Tengah. Begitu dikomando Fakhri, semua anggota organisasi pecinta
alam berkumpul dan terlibat dalam pencarian jasad Ukhyar, juga para korban lain.
Tidak hanya cabang organisasi di kabupaten setempat, tetapi dari cabang-cabang
terdekat juga turut membantu. Bahkan, perwakilan dari pusat di Banjarmasin pun
turut hadir.
Tentu saja ini bukan yang pertama dalam hal
cari-mencari jasad korban tenggelam. Para pemuda pecinta alam terbiasa
bergabung dengan tim SAR, TRC, dan Tagana. Namun, kali ini terasa berbeda.
Jumlah perahu karet dan speedboat yang tersedia pun lebih banyak dibanding
biasanya. Demikian pula dengan perlengkapan selam dan alat-alat penyelamat
lainnya. Belum lagi dengan penduduk lokal yang menaiki jukung dan lanting. Di
titik utama pencarian, dua tenda peleton didirikan. Para penduduk kampung
setempat menyaksikan di tepian sungai atau di jembatan. Turut pula mengawasi
beberapa anggota TNI dan polisi.
Pencarian korban tenggelam di sungai selalu
dipenuhi suasana mencekam. Arus atas yang tenang menyembunyikan arus bawah yang
deras. Di samping itu, penyelam harus berhati-hati dengan akar-akar pohon yang
berjalinan di bagian pinggir sungai. Di situlah biasanya jasad korban
tersangkut. Tidak menutup kemungkinan ikan tapah raksasa yang masih menghuni
sungai ini. Memang tak makan orang hidup-hidup, namun jika merasa terancam, dia
bisa menyerang dengan mulutnya yang lebar dan giginya yang tajam.
Fakhri ikut terjun menyelam. Ia berharap
jasad sahabatnya itu ditemukan olehnya. Semua regu terbagi ke dalam beberapa
grup sepanjang lima hingga tujuh kilometer panjang sungai. Arus sungai tidak
terlalu deras sehingga mempermudah pencarian. Dalam waktu sepuluh jam, tiga jasad
korban ditemukan. Dua di antaranya ditemukan penduduk lokal yang menyelam tanpa
alat apa pun, tersangkut di antara jalinan akar. Satu ditemukan tim SAR, masih
terjebak dalam klotok di dasar sungai.
Kini, tinggal satu jasad lagi, jasad
Ukhyar. Fakhri sudah sekian kali naik turun ke dasar sungai. Hingga hari itu,
jasad Ukhyar belum juga ditemukan. Akhirnya, pencarian hari pertama dihentikan.
Fakhri bertekad untuk terus membantu sebagai penyelam.
Hingga hari ketiga, jasad Ukhyar belum juga
ditemukan. Padahal, titik pencarian sudah diperpanjang hingga lebih dari
sepuluh kilometer dan selama itu, tidak terjadi peningkatan arus dan permukaan
sungai sudah surut hingga titik terendah. Penduduk setempat yang sangat
mengetahui situasi sungai tampak keheranan. Biasanya, korban sebanyak apa pun
dalam waktu tiga hari, apa lagi sungai surut, selalu ditemukan.
Fakhri nyaris putus asa. Semua tim
bersepakat, pada hari kelima, pencarian akan dihentikan dan korban dinyatakan
hilang. Dan itulah yang terjadi. Keluarga Nini Isah yang setia menyaksikan
pencarian pecah tangisnya. Ditambah lagi rumor yang beredar bahwa jasad Ukhyar
sudah dilahap ikan tapah raksasa, bahwa jasad Ukhyar disembunyikan dan dibawa
hantu Tambun[6],
dalan lain lagi.
Salah seorang kawannya yang merupakan
penduduk setempat menyarankannya untuk batatamba[7]
kepada orang pandai. Karena taka da hal lain yang bisa dilakukan, saran itu pun
langsung dituruti.
Dipertemukanlah Fakhri dan keluarga Nini
Isah dengan Kai Idang, ahli tatamba setempat. Fakhri dan beberapa kawannya
menceritakan apa yang terjadi dan apa yang dilakukannya selama lima hari ini. Kai
Idang hanya mengangguk-angguk. Lalu, beliau menegakkan badannya dan mengambil
sikap duduk sempurna. Matanya menatap tajam lurus ke depan. Tampak mulutnya
berkomat-kamit mendesiskan sebentuk mantra atau doa. Tak lama kemudian, matanya
terpejam dan suasana jadi hening mencekam.
Sekira lima belas menit berlalu. Sikap
badan Kai Idang kembali seperti biasa. Lalu ia mulai bertutur kata. “Inya[8]
diambil penghuni sungai. Handak dijadikan penjaga pusaka kampung sana.”
“Bisakah inya babulik[9]?”
tanya Fakhri antusias.
“Kawa[10]
ai, tapi bila babulik ka sini, tinggal awaknya saja,” jawab Kai Idang dengan
nada datar.
Nini Isah dan kakak-kakak Ukhyar tertunduk
dan terisak-isak.
“Tapi…,” Kai Idang menyambung
pembicaraannya. Serentak semua mendongak, “… amun[11]
sampian[12]
mambiarkan inya hidup di alam sana, ulun[13]
bisa mangusahakan untuk batamu sakali-sakali haja. Silakan saja dirundingkan.”
“Berapa kalikah kami kawa batamu dalam
satahun?” Tanya Nini Isah.
“Satahun sakali, tiap hari awal bulan
Srawana, tahun Saka. Itu tahun barunya urang Hindu.”
“Jadi Hindukah Ukhyar di sana?” tanya Nini
Isah dengan nada khawatir.
“Inggih, penghuni sungai itu tuha-tuha
umurnya, bakas prajuritnya Karajaan Nagaradipa. Jadi, kada da nang muslim[14].”
Semua saling pandang. Tak memakan waktu
lama untuk memutuskan. Mereka akhirnya bersepakat Ukhyar dibiarkan saja hidup
di alam sana.
“Tapi kami kada mangarti tahun Hindu.
Bisalah Pian mangusahakan tahun Islam saja?”
Kai Idang tercenung, lalu manggut-manggut
sambil mengusap-usap janggutnya.
“Sampian dari Sungai Tangah kah? Nah, kaina
ulun ka sana, kita tamui baimbai Tuan Guru Muhdi. Beliau urang pandai, ilmu
agamanya tinggi."
Mereka mengangguk lega.
* * *
Hari ini tepat tanggal satu Hijriah, empat
bulan setelah Ukhyar tenggelam. Di salah satu titik di Sungai Nagara, keluarga
Nini Isah ditambah Fakhri dipertemukan kembali dengan dengan Ukhyar.
Seusai seluruh keluarga Ukhyar menyalami
dan memeluk Ukhyar tibalah saat giliran Fakhri. Fakhri yang tak kenal takut,
bahkan terhadap Kuyang[15],
Anak Sima[16],
atau Hantu Api, kini justru merasa gentar berhadapan dengan Ukhyar.
“Jangan takutan, ikam tetap kawan baik
ulun,” ujar Ukhyar yang kata Kai Idang kini berganti nama jadi Raden Banyu
Agung. Demi mendengar itu, Fakhri menghampiri dan memeluknya. Memang, badan,
wajah, sikap, dan pakaian Ukhyar sudah sangat jauh berbeda, namun Fakhri tetap
merasakan getar persahabatan yang akrab dari dalamnya.
“Ri, amun kawa, ampih ha[17]
minum-minum, rajin ha sambahyang, dan lakas ha kawin lagi,” nasihat Ukhyar
seusai melepaskan pelukan. Ia meraih tangan Fakhri dan menyelipkan sebutir
benda keras, bening, dan berkilau, sebesaran buah ramania “ini ada sedikit
oleh-oleh dari ulun. Pakayakan ha gasan biaya kawinan ikam dan sangu si Halisah[18].
Sekolahkan ha inya tinggi-tinggi.”
Sekonyong-konyong, dari arah sungai,
terdengar gedebur air yang keras seperti ada benda berat dan besar jatuh ke
dalamnya. Ukhyar menoleh sesaat, lalu berujar pada semuanya, “Ulun bulikan
wahini nah[19].”
Kai Idang memberi isyarat agar semua
meninggalkan tempat itu. Sekali lagi, mereka saling bersalaman dan berpelukan.
Lalu, rombongan berbalik, sementara Ukhyar masih berdiri tegak dengan sikap
seperti prajurit sedang istirahat di tempat. Pancaran keagungannya kembali
terasa. Kai Idang memandu mereka dari belakang, mengupayakan agar tak ada
anggota rombongan yang menoleh.
Di tengah perjalanan, Nini Isah tak
henti-hentinya berzikir. Ketika hendak naik mobil untuk pulang kembali ke
Sungai Tengah, ia mengucapkan terima kasih dan menyerahkan sehelai amplop putih
kepada Kai Idang.
“Ikhlaslah? Untuk hal seperti ini, Ulun
kada meminta mahar,” ujar Kai Idang.
“Insya Allah, ini tanda tarima kasih kami
haja.” Jawab Nini Isah mantap dan tenang meski pipinya berlinangan ari mata.
Selama perjalanan dalam mobil, suasana
heninglah yang menyertai. Mungkin masih takjub dan hanyut dengan pikiran
masing-masing. Ketika mobil rombongan sudah memasuki wilayah Kabupaten Sungai Tengah,
Nini Isah memecah keheningan.
“Ri, antarakan kami ka rumah Tuan Guru
Muhdi,” ujarnya. Sontak semua kaget dan bertanya kepadanya, “Ulun handak minta
tolong ke Tuan Guru,” Nini Isah melanjutkan, “handak minta diusahakan supaya
Ukhyar tetap beragama Islam. Biar di akhirat kita tatap bisa berkumpul bersama.”
Fakhri langsung tercenung. Perlu sekian detik baginya untuk kemudian bergumam, “Amin.” Di simpang sepuluh, ia membanting setir ke arah kiri, membelokkan mobil ke arah rumah Tuan Guru Muhdi.
*Penulis adalah alumni Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran; pegiat Forum Lingkar Pena.
[1] Pakaian adat/kebesaran laki-laki Banjar
zaman Hindu
[2] Bangsawan, ningrat
[3] Mahkota, kepala kepala pakaian adat Banjar
[4] Kumal, tidak rapi
[5] Hajatan, pesta
[6] Hantu berwujud tikar yang mengapung di
sungai
[7] Berobat/bertanya kepada dukun
[8] Dia
[9] Pulang kembali
[10] Bisa
[11] Kalau
[12] Anda (Jawa: sampeyan)
[13] Saya
[14] Tidak ada yang muslim
[15] Hantu berwujud kepala perempuan dan organ
dalam yang melayang-layang
[16] Hantu berwujud bayi yang menangis
[17] berhentilah
[18] Pakailah untuk biaya perkawinanmu dan
bekal/jajan si Halisa
[19] Saya harus pulang sekarang


0 Komentar