Inskripsi.com | Karya Utama, Admin--Penampang Sejarah Kesusastraan Indonesia bergerak dalam dua sisi, yakni karya dan kiritik. Darinya muncul pembabakan yang disusun dengan penanda sastrawan dan karya.
Sepanjang menyusuri sejarah kesusastraan Indonesia, kita mesti berterima kasih kepada Hans Bague Jasin yang telah melakukannya. Bahkan, hingga sekarang dedikasinya atas kesusastraan Indonesia dapat kita rasakan dengan mengakses Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jasin.
Seperti diketahui, Jasin membagi sejarah kesusastraaan Indonesia dalam Sastra Indonesia Lama dan Sastra Indonesia Baru. Pewatas dipakai Jassin dari karya-karya terbitan Balai Pustaka (1920) yang kala itu banyak menerbitkan novel untuk bacaan pelipur lara rakyat pribumi.
Kegundahan muncul karena ketidakpuasan atas karya sastra terbitan Balai Pustaka. Selain berfungsi sebagai bacaan pelipur lara, karya sastra dapat menjadi media penyampaian gagasan, terutama kesadaran kebangsaan (nasionalisme) yang kala itu menjadi kesadaran kolektif generasi pertama kaum intelektual pribumi hasil didikan politik etis kolonialisme Belanda.
Di tahun 1933, tepatnya di bulan Juli, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane menerbitkan Majalah Kebudayaan Pujangga Baru untuk mewadahi kesadaran baru ini. Novel Layar terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Novel Belenggu karya Armijn Pane merepresentasikan gerakan sastra untuk kebangsaan ini.
Nah, di sinilah kita akan menempatkan sastrawan satu ini yang oleh Jassin didaulat sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Mengingat tiga serangkai ini sebagai penggagas gerakan kesadaran kebangsaan Indonesia, adakah jejak gerakan tersebut terbaca dalam karya puisi Amir Hamzah?
Sanad Sang Raja Penyair Pujangga Baru
Di tahun 1920-an, genre puisi telah menerima bentuk baru dalam penulisannya. Sastra Indonesia Lama yang berpangkal pada kesusastraan Melayu lama menyertakan platform pantun (dengan variasi karmina, talibun, dan seloka), syair, gurindam, bidal, dan mantera.
Bentuk baru yang dimaksud adalah empat belas baris seuntai dalam bait yang dikenal dengan istilah soneta. Bentuk baru ini berasal dari Italia yang masuk dalam kesusastraan Belanda, yang dibaca oleh generasi pertama intelektual pribumi.
Berbeda dengan karya novel yang massif diterbitkan Balai Pustaka, puisi belum berterima dengan khalayak pembaca pribumi karena masih ditulis dengan penyebaran yang terbatas (manuskrip). Selain itu, puisi lebih dapat menampung gagasan kreatif kebangsaan sehingga tidak leluasa diapresiasi karena sensor kolonial Belanda.
Tentu, pembahasan kita akan tertuju pada karya Muhammad Yamin dan Sanusi Pane. Kedua Sastrawan ini dianggap sebagai peletak puisi baru Indonesia, seperti terbaca dalam puisi berikut ini.
Di Lautan Hindia
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Sebelah Timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula bertabur
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi barissan sebuah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur
Penjelajahan bentuk kedua penyair ini masih belum lepas dari tradisi puisi Melayu lama, seperti syair dan pantun. Namun, dalam isi kedua penyair ini telah menginskripsi gagasan kebangsaan, seperti terbaca dalam puisi “Tanah Air”, “Indonesia Tumpah Darahku”, “Bahasa, Bangsa” karya Muhammad Yamin dan puisi “Teratai, Kepada Ki Hajar Dewantoro”, “Tanah Bahagia”, “Majapahit” karya Sanusi Pane.
Dari sinilah kita dapat mulai membahas sanad karya Sang Raja Penyair Pujangga Baru. Namun, lanskap puisi-puisi Amir Hamzah melampaui pendahulunya. Ia lebih asyik-masyuk dengan khazanah tradisi puisi lama Melayu yang menyimpan pendar cahaya profetik warisan sastra sufisme.
Baca Juga: Chairil Anwar, Kisah Pukau Maut
Jelajah Bentuk dan Isi Puisi Sang Raja Penyair Pujangga Baru
Mungkin, karya puisi yang terkumpul dalam buku Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu dapat membawa kita dalam keasyikmasyukan Sang Raja Penyair Pujangga Baru yang terasing dalam ingar-bingar hidup dan kehidupan kala itu.
Mungkin juga, puisi “Padamu Jua” menjadi semacam jalan buat kita memutuskan bahwa penyair ini memang “Mabuk” kepayang “Kerana Kekasih” yang takditemu di “Taman Dunia” yang membedakannya dengan dua penyair pendahulunya.
Karya Amir Hamzah yang cenderung profetik “mau lebih” masuk ke dalam aras sufisme Melayu yang terinskripsi dalam karya puisi Nuruddin Ar Raniri, Hamzah Fanzuri, dan Raja Ali Haji. Mungkin karena ini pula, jelajah bentuk puisi Amir Hamzah sangat kental dengan tradisi puisi lama Melayu.
Sebabnya, soal isi puisi boleh jadi dapat kita temukan juga dalam penjelajahan bentuk yang, takakan berakhir ditangan seorang penyair. Untuk meneguhkan isi, arti, makna, gagasan, atau paham puisi, soal bentuk dapat ditelusuri sebagai perwujudan isi.
Marilah kita mulai dengan satu puisi berjudul “Batu Belah”. Tiga bait pertama puisi ini dibuka dengan empat baris beruntai dalam bait yang menyiratkan syair. Namun, rima akhir baris a-a-a-a dalam syair telah ditinggalkan. Berikut saya kutip ketiga bait tersebut.
Dalam rimba rumah sebuah
teratak bambu terlampau tua
angin menyusup di lubang tepas
bergulung naik di sudut sunyi
Kayu tua membetul tinggi
membukak puncak jauh di atas
bagai perarakan melintas negeri
payung menaung jemala raja
Ibu bapa beranak seorang
manja bena terada-ada
plagu lagak tiada disangkak
mana tempat ibu meminta
Bait berikutnya menandai pola persajakan yang dinamis, yakni dua baris beruntai dalam bait yang berhubungan maknanya dengan empat baris beruntai pada bait berikutnya.
Telur kemahang minta carikan
untuk lauk di nasi sejuk
Tiada sayang;
dalam rimba telur kemahang
mana daya ibu mencari
mana tempat ibu meminta.
Anak lasak mengisak panjang
menyabak merunta mengguling diri
kasihan ibu berhancur hati
lemah jiwa kerana cinta
Bait berikutnya semakin dinamis dalam pemolaan ritme dalam baris. Pemilihan ujaran /Dengan ……… dengar !/ dan peniruan bunyi /Rang… rang… rangkup/ terbaca sebagai pergeseran bentuk dari bait-bait sebelumnya.
Dengar.........dengar !
dari jauh suara sayup
mengalun sampai memecah sepi
menyata rupa mengasing kata
Rang... rang... rangkup
Rang... rang... rangkup
batu belah batu bertangkup
ngeri berbunyi berganda kali.
Dua bait berikutnya menandai bentuk syair yang dipadu dengan bait berikutnya dengan dua baris beruntai
Diam ibu berfikir panjang
lupa anak menangis hampir
kalau begini susahnya hidup
biar ditelan batu bertangkup
Kembali pada suara bergelora
bagai ombak datang menampar
macam sorak semarai ramai
kerana ada hati berbimbang
menyahut ibu sambil tersedu
melagu langsing suara susah;
Bait berikutnya menandai puisi “Batu Belah” dalam sekuen pertama. Demikian tokoh ibu menyahut sambil tersedu dalam lagu bernada susah.
Batu belah, batu bertangkup
batu tepian tempat mandi
Insha Allah tiadaku takut
sudah demikian kuperbuat janji.
Bait ini relevan dengan pantun. Dua baris pertama sampiran dan dua baris terakhir isi. Setiap baris berisi empat kata yang menandai “ritme dalam” dan kesesuaian bunyi akhir dua kelompok kata setiap baris. Namun, rima akhir setiap baris sudah meninggalkan aturan pantun berpola a-b-a-b.
Dalam sekuen pertama puisi “Batu Belah” ini, napas panjang tradisi syair sangat erat kaitannya dengan kisahan yang menandai adanya tokoh, rangkaian peristiwa, dan latar.
Kata ganti orang pertama sebagai aku lirik puisi berkisah tentang sebuah dunia (tiga bait pertama sebagai pembuka/abstrak), penampilan masalah yang dihadapi tokoh ibu (tiga bait berikutnya sebagai orientasi), masalah dihadapi tokoh ibu karena anaknya terabaikan (dua bait selanjutnya sebagai komplikasi), sikap yang diambil tokoh ibu sebagai penyelesaian masalah (tiga bait selanjutnya sebagai resolusi), dan kesimpulan sekuen pertama (satu bait sebagai penutup/koda).
Delapan bait berikutnya menandai sekuen kedua puisi “Batu Belah” yang tidak hanya menampilkan tokoh ibu yang mendamba tokoh anak, tetapi juga menampilkan tokoh anak yang kehilangan tokoh ibu. Baik tokoh ibu maupun tokoh anak, keduanya sama berucap //Insha Allah tiadaku takut/sudah demikian kuperbuat janji//.
Kecenderungan kisahan juga terdapat dalam puisi Amir Hamzah yang lain, seperti “Hang Tuah”. Namun, dari kebanyakan puisi Amir Hamzah yang sangat kuat ekspresi dan persepsi aku lirik penyairnya, puisi “Doa” terbaca sebagai penjelajahan bentuk lain yang menandai tata baris sebagai larik dalam bait menjadi tata kalimat sebagai larik dalam paragraf pengganti bait.
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah
terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar
gelakku rayu!
Sampai di sini, sebagai penutup bagian ini,saya sertakan satu puisi yang menjadi puncak estetika dalam penjelajahan bentuk dan isi puisi Amir Hamzah. Selain itu, puisi ini juga menandai dalamnya wawasan sufistik sebagai warisan sastra Melayu lama.
Padamu Jua
Habis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - bukan giliranku
Matahari - bukan kawanku.
Baca juga: Muhammad Yamin, Peneroka Bahasa Kebangsaan
Membaca Narasi Kebangsaan Dengan Mitologi Hang Tuah
Sebuah biografi takhendak menghampiri dengan nyinyir. Mungkin, ada banyak pahlawan yang tercatat di buku sejarah. Namun, lebih banyak lagi pelaku sejarah takbernisan yang menyerah di tangan pengisah.
Di bagian awal tulisan ini, kita akan menelusuri jejak kesadaran kebangsaan seorang Amir Hamzah dalam karyanya. Adakah jejak gerakan tersebut terbaca dalam karya puisi Amir Hamzah?
Karya utama Angkatan Pujangga Baru terbaca dalam Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Novel Belenggu karya Armijn Pane. Kedua karya ini dinisbat sebagai ciri Pujangga Baru yang berjuang dengan karya sastra untuk melahirkan wawasan kebangsaan.
Puisi berikut ini dapat menjadi jalan kita untuk melihat wawasan kebangsaan Amir Hamzah. Memang, hasrat kebangsaan dapat dikonkretkan dengan memaknai ulang sebuah kisah lampau yang menciptakan identitas diri dan rasa kebanggaan.
Selain itu, kisah lampau yang berhubungan dengan tokoh dan sejarah kejayaannya dapat dimaknai sebagai mitologi yang berhubungan dengan kosmologi suatu komunitas. Bahkan, kesahihan pengetahuan manusia, seperti filsafat dan sains, justeru dibangun dari mitologi.
Demikianlah, Raja Penyair Pujangga Baru ini menyadari kekuatan mitologi dari warisan kebudayaan suku bangsanya sebagai salah satu arketif yang membangun epistem pengetahuan.
Terakhir, saya tidak akan memberi bingkai pemaknaan atas puisi ini. Pembaca memiliki horizon dunia yang boleh jadi pelangi makna dari tafsir tunggal. Agar keberjamakan makna puisi dapat terjaga, saya kutip utuh puisi “Hang Tuah” berikut ini. Selamat memasuki kisahan mitologis.
Hang Tuah
Bayu berpuput alun digulung
banyu direbut buih dibubung
Selat Melaka ombaknya memecah
pukul-memukul belah membelah
Bahtera ditepuk buritan dilanda
penjajab dihanatuk haluan ditunda
Chamar terbang riuh suara
alkamar hilang menyelam segera.
Armada Peringgi lari bersusun
Melaka negeri hendak diruntun.
Galyas dan pusta tinggi dan kukuh
pantas dan angkara ranggi dan angkuh
Melaka! laksana kehilangan bapa
randa! sibuk mencari cendera mata!
"Hang Tuah ! Hang Tuah! di mana dia
panggilkan aku kesuma perwira!"
Tuanku, sultan Melaka, Maharaja Bintan!
dengarkan kata bentara kanan.
"Tun Tuah, di Majapahit nama termashur
badanya sakit rasakan hancur!"
Wah, alahlah rupanya negara Melaka
kerana laksamana ditimpa mara.
Tetapi engkau wahai kasturi
kujadikan suluh, mampukah diri?
Hujan rintik membasahi bumi
guruh mendayu menyedihkan hati.
Keluarlah suluh menyusun pantai
angkatan Pertugal hajat dinintai.
Chucuk diserang ditikami seligi
sauh terbang dilembari sekali.
Lela dipasang gemuruh suara
rasakan terbang ruh dan nyawa.
Suluh Melaka jumlahnya kecil
undur segera mana yang tampil.
"Tuanku, armada Peringgi sudahlah dekat
kita keluari dengan cepat.
Hang Tuah cuba lihati
apakah 'afiat rasanya diri?'
Laksamana Hang Tuah mendengar berita
Armada Peringgi duduk di kuala.
Mintak didirikan dengan segera
hendak berjalan ke hadapan raja.
Bukankah itu laksamana sendiri
Negeri Melaka hidup kembali.
Laksamana , cahaya Melaka, bunga pahlawan
kemala setia maralah tuan.
Tuanku, jadikan patik tolak bala
turunkan angkatan dengan segera.
Genderang perang disuruhnya palu
memanggil imbang iramanya tentu.
Keluarlah laksamana mahkota ratu
tinggallah Melaka di dalam ragu...
Marya! marya! tempik Peringgi
lelapun meletup berganti-ganti.
Terang cuaca berganti kelam
bujang Melaka menjadi geram.
Galyas dilanda pusta dirampat
Sabas Melaka su'ma di Selat !
Amuk-beramuk buru-memburu
"Tusuk-menusuk laru-melaru.
Lela rentaka berputar-putar
cahaya senjata bersinar-sinar.
Laksamana mengamuk di atas pusta
Yu menyambar umpamanya nyata...
Hijau segara bertukar warna
sinau senjata pengantar nyawa.
Hang Tuah empat berkawan
serangnya hebat tiada tertahan.
Chukuk Peringgi menarik layar
induk dicari tempat terhindar.
Angkatan besar maju segera
mendapatkan payar ratu Melaka.
Perang ramai berlipat ganda
pencalang berai tempat kesegala.
Dang Gubenur memasang lela
umpama guntur diterang cuaca.
Peluru terbang menuju bahtera
Laksamana dijulang ke dalam segara…
Mangkubumi, 08 Februari 2021
Salam inskripsi,
Nizar Machyuzaar



0 Komentar