Yustia Kusmarlina
Cerita Seorang Pene(r)bang
Lalu apa hakikat dari sebuah kenyataan?
Ketika terjaga di pagi buta,
Kemudian pergi dengan wajah muram yang tidak dapat
kau sembunyikan
Lalu kau siasati dengan egomu
Dalam sebuah pidato heroik yang menyayat hati…
Yustia Kusmarlina, Cuplikan “Pernah pada Suatu
Ketika”
2017
Tak Sejalan
Jika masa lalu masih menggelayut di ujung harapan
tanpa asa dari jiwa – jiwa pencari
damai, lalu mengapa saling mencari
Jika kau membuatku berhenti mencari, mungkin kau
yang aku cari
Tapi pencarianku terhenti, masa lalu tak kunjung
usai
Tak ingin bias dalam damai jika hati mulai
berontak, mengoyak setiap luka yang tak kunjung baik
Aku tak ingin bias seperti bias yang semburat dari
kata buasmu tentang masa lalu
tapi aku tak mau membuas dalam bias,
Kubendung saja semua rasa agar tak terkapar di atas
ranjangku tentangmu,
Cukup terkapar oleh masa lalu
Aku kalah tapi kau tak pernah kalah karena kau tak
mau menang
Kirim saja berbait monolog,
Akan kubaca dalam diam,
Agar tak seorang pun tahu persepsi skeptis yang
bermain nakal dalam otakku
Aku akan rindu,
Ketika kita saling mencari
Yustia Kusmarlina
19 Oktober 2018
Jangan bertanya mengapa aku tak pernah terbunuh sepi,
Sedangkan kau sudah mati saat sepi baru saja
dimulai
Aku bersetubuh dalam sepi
Aku merasa damai
Aku tidak takut, datanglah kau sepi
Cinta tak pernah sepi
Cinta itu ramai
Ramai tak membuatku damai
Yustia Kusmarlina
21 Juli 2020
Seruni Seruling Bambu
Seruni berlari riang di pematang sawah
Dia berteriak – teriak memanggil teman – temannya
Teman – teman berlarian menghampiri Seruni,
di saung di tengah sawah
Ternyata Seruni baru memiliki seruling bambu
Entah dari mana ia dapat
Ia pamerkan serulingnya kepada teman – temannya
Teman – teman sangat tertarik karena seruling
bambunya cantik sekali
Ada ukiran bunga di sekelilingnya
Layaknya anak – anak yang selalu ingin,
Mereka pun berlari pulang meminta kepada ibunya
untuk sebuah seruling bambu
Bagi yang mampu tentu tidak sulit untuk membelinya,
yang tidak mampu, ayahnya membuatkan dari batang
padi
Sore menjelang,
Seruni dan teman – teman berkumpul kembali di saung
di tengah sawah
Sambil membawa seruling
Seruling milik Seruni paling nyaring suaranya
Tapi sayang, dia tidak piawai memainkan nada
Seruling lainnya ikut ditiup,
bencana datang
Berisik nada tanpa harmoni
Suaranya semakin kencang memekakkan telinga
Namun mereka terus meniup seruling dengan riang
Mereka tidak menyadari,
Suaranya mengganggu jiwa – jiwa yang sunyi
Suara seruling terus melengking
Hingga matahari terbenam
Jiwa – jiwa yang sunyi terusik
Sehingga satu persatu pergi menjauh,
Entah menumpang dalam rasa siapa
Aku ingin sekali bersama dengan Seruni,
Mungkin aku juga bisa riang meniup seruling bambu
Tanpa menghiraukan nbada sumbangnya
Tapi lama – lama telingaku sakit
Hatiku gundah
Senja menjelang dan kuingin dalam peraduan malam
Lalu kuhampiri Seruni
Jangankan untuk berdialog,
Berteriak pun suaraku tenggelam dalam lengkingan
kegaduhannya
Kemudian aku pulang…
Jika aku tak memiliki kekuatan untuk berbicara,
apalagi berteriak,
Setidaknya aku masih memiliki dua tangan untuk
menutup kedua telingaku
Lalu senyap…
Dan aku pun tertidur
Senyap dalam hingar bingar suara seruling.
Yustia Kusmarlina
22 Agustus 2017
Menari dalam Tempayan
“Cukuplah aku berpesta dalam tempayan ini.” katanya
Oh… dia tidak tahu di luar tempayan ada kehidupan
lain yang lebih “pesta”
Tahukah kamu, dunia tidak selebar daun kelor,
Juga tidak sesempit otakmu
Di saat orang – orang sibuk dengan dunia makro,
Kamu malah sibuk dengan opini
Tidak salah beropini,
Tapi jangan jadikan itu fakta
Apakah sudah diuji jika kamu menjual opini sebagai
fakta?
Jika mampu menginduksi secara matematis,
Baru jadikan dalam sebuah buku,
Sehingga fakta iakan menjadi sejarah kelak,
Dan namamu tersurat sebagai penulis
Aku lemparkan sebongkah batu,
agar kamu pecahkan tempayanmu dari dalam,
lalu keluar bersamaku.
Tapi kamu jadikan batu itu untuk menumbuk bumbu
masakanmu
Semakin nikmat dan terlena kamu makan enak di dalam
sana
Lalu aku lemparkan tali untuk menarikmu keluar,
Tapi kamu jadikan tali laso dan berusaha menjeratku
masuk dalam tempayanmu
Aku tidak ingin kamu kesepian di dalam tempayanmu,
Aku putarkan lagu dangdut kesukaan kamu,
Karena kamu memang seperti lagu dangdut,
Bergoyang dalam syair yang sedih,
Menari di atas derita lain
Dan aku?
Aku bergembira secara alami dan manusiawi di luar
sini
Sibuk mencari kebahagian menurut kadar diriku,
Hingga tak ada waktu tersisa untuk beropini,
Sambal sesekali menengok ke dalam tempayanmu,
Memastikan kamu masih hidup dalam euphoria opinimu.
Tidak ada pengorbanan sia – sia
Dan jika beruntung,
Reguklah secawan HIKMAH
Yustia Kusmarlina, 14 Agustus 2017
Tentang Rasa (Takut) 2
Kemarin aku terbangun oleh derap bising langkah kaki tentara di aspal kering bandara Derapnya menghentak mengguncang damai degup jantungku
Pagi ini sebelum lonceng berdentang,
aku terbangun oleh berisik suara
hati di dalam lubuk ruang tak berpenghuni
Ingin kubuka pintu yang diketuk salam manusia bumi
Kutarik sedikit tirai yang
tertiup angin kerinduan
Kututup sambil sedikit mengintip
menelisik jika saja manusia bumi tetap berdiri di depan pintu
Tubuh tak bergeming, jiwa
berteriak meronta ingin dilepas
Namun nurani masih melekat tanpa
sebab yang pasti
Ngeri...
Pada cinta yang hakiki
-Tia-
06.10.2018
Biodata:
Yustia
Kurmarlina kelahiran Bogor 16 Maret. Aktif menulis di Majelis Sastra Bandung
–Ruang Sastra yang Sebenarnya.. Puisinya termuat dalam Antologi Ziarah Kata (2009) terbitan MSB.
Puisi-puisinya kental dengan permenungan sebagai perempuan yang berprofesi
pramugari.



1 Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus