Balalin
Malam itu menjadi malam yang sangat mencekam bagi Patriskiting ketika ia menyaksikan gelombang eksodus terjadi. Mula-mula
gerombolan burung yang begitu saja muncul dari arah Hutan Marut. Bergerak seperti gelombang awan hitam ke
tempat ia berdiri—sebuah bukit rumput yang tak ia kenali. Berteriak riuh
seperti mengalami ketakutan yang luar biasa. Terbang berputar-putar di atas
kepalanya lalu kembali bergelombang ke arah matahari terbenam.
Di tempat lain, Patriskiting melihat
gerombolan monyet mengelilingi setumpuk bangkai kawannya. Monyet-monyet itu
sedang berkabung dengan kesedihan dan kemarahan yang berpadu. Mereka menjerit-jerit
dengan suara yang memekakan telinga. Seekor yang paling besar dan berbulu
paling lebat, mendongak ke langit dan memencak-mencak mengisyaratkan kemarahan yang
luar biasa.
Gerombolan babi keluar hutan, menerobos semak melewati sungai dengan langkah setengah
berlari, seolah ada puluhan tombak mengejar dari belakang. Babi-babi itu tak
menoleh. Bergerak lurus ke arah jalan yang hendak dilalui.
Patriskiting terkesima menyaksikan adegan-adegan para binatang itu. Begitu
cepat seakan tak memberinya kesempatan untuk menghela nafas, melonggarkan dada
yang terasa sesak. Angin tak bertiup. Di bawah remang bulan sabit, pepohonan
kaku.
Manakala angin bertiup, Patriskiting tersentak oleh makhluk-makhluk serupa
hantu yang keluar dari pepohonan.
Terbang melayang ke atas lalu berkerumun membentuk sebuah gerombolan kabut.
Patriskiting tahu makhluk halus itu adalah roh-roh nenek moyang mereka. Adu Oroh yang sudah merasakan bahkan sudah melihat apa
yang akan terjadi pada hari esok atau masa yang akan datang, sebelum
orang-orang kampung, anak cucunya tahu.
“Apa yang terjadi di hutan sana?”
Patriskiting merasa sangat cemas. Tubuhnya bermandi peluh. Mendadak ia
ingin pergi ke hutan itu. Hutan yang sering ia jelajahi sejak kecil, saat ia
sering diajak ayahnya ke sana. Hutan yang sudah sangat ia kenali.
Saat remaja, Patrisking sering di bawa ayahnya menjelajahi Hutan Marut.
Ayahnya, kala itu, menunjukan secara
detil dan rinci bagian-bagian hutan yang menjadi milik mereka. Bukit dan sungai
serta anak-anak sungai yang membatasi hutan mereka dengan hutan yang dimiliki
orang-orang dari kelompok suku lain. Mendiang ayahnya, juga menunjukan letak-letak pepohonan yang
menjadi tempat berdiamnya roh para kakek moyang mereka. Ayahnya menunjukan di pohon mana kelak rohnya
akan berdiam setelah ajal tiba.
Bagi para lelaki dewasa Long Simau, mencari dan menentukan pohon untuk
berdiamnya roh kelak adalah sebuah keniscayaan. Pencarian dilakukaan oleh para
lelaki manakala ia sudah dewasa atau setelah ia mampu menjelajahi hutan. Ia
akan pergi dari kampung seorang diri atau berteman seekor anjing yang paling
kuat dan bisa dihandalkan untuk menemani tuannya berjalan. Perjalanan bisa
berlangsung seharian, tergantung cepat atau lambatnya ia menemukan pohon yang
dianggap tepat. Tepat atau tidaknya akan ditentukan oleh kekuatan yang akan
muncul mendorongnya untuk memilih pohon secara yakin. Jika pada satu pohon
keyakinan itu belum didapat, maka orang akan berjalan lagi untuk memilih pohon
lain. Sampai ditemukan pohon yang betul-betul menyatu dengan pikiran dan
jiwanya.
Puluhan pohon raksasa yang tumbuh di Hutan Marut sudah terpilih dan sekarang menjadi tempat
berdiamnya nenek moyang orang Long Simau. Patriskiting sudah menandai sebuah
pohon ulin yang tumbuh di sebelah timur. Dengan melingkarkan rotan sebesar jari
pada pokok batang kayu tersebut. Ikatan rotan yang melingkar itu ia tetesi
darah dari dua jari tengahnya yang di iris sedikit dengan menggunakan pisau.
Ketika Patriskiting meninggal rohnya akan terbang ke sana mencari pohon berbau darah itu.
Sebegitu kuat dorongan pada Patriskiting sehingga pagi buta, ketika malam
masih menyisakan gelap, ia sudah melangkah pergi bersama Si Tukuk, anjing
hitam, yang telah menemaninya bertahun-tahun. Jika bukan Patriskiting, butuh
waktu setengah hari dari kampung ke jantung hutan sana. Lelaki itu berjalan
setengah tak menapak. Melewati jalan setapak di sela pepohonan dan belukar. Tak
ada embun atau sisa air yang jatuh dari dedaunan yang tersisir Patriskiting.
Patriskiting, seperti bayang-bayang yang terus berkebat menembus hutan.
Lelaki yang masih meyakini keberadaan dan peran serta Bungan Pesalong Bugang dalam kehidupan orang Kampung Long Simau dan
dalam menjaga hutan itu, merasa akan ada sesuatu datang. Sesuatu yang
mengganggu tatanan kehidupan orang kampung dan tatanan kehidupan para roh
leluhur di Hutan Marut sana.
Matahari telah berada di garis tengah langit ketika Patriskiting sampai di
muara Sei Marut. Muara itu adalah
gerbang bagi orang-orang Long Simau yang hendak memasuki Hutan Marut. Dari
muara Patriskiting melangkah menyusuri jalan setapak menuju lembah yang ada di
sebelah timur bukit Marut. Jalan yang
disusuri Patriskiting tak lagi berupa jalan layaknya yang sering diinjak orang.
Permukaan tanahnya sama saja dengan tanah disekitarnya. Yang menunjukan itu
sebagai jalan adalah adanya rambu-rambu atau tanda-tanda yang dibuat
Patriskiting dan orang-orang yang mulai rapat tertutup semak belukar.
Patriskiting seperti seekor ular, menyelinap licin di sela pohon dan
belukar. Diikuti anjingnya yang sejak sampai mura tak sekalipun mengeluarkan
suara selain dengus nafasnya. Tujuan Patriskiting adalah tebing bergoa dan
bebatuan yang menjadi situs nenek moyangnya.
Seekor ular sawah (sejenis ular sanca) sebesar pohon pinang merayap pergi
dari atas batu usai menjemurkan badanya setelah berhari-hari melingkar di
tempat yang lembab, ketika angin yang bertiup dari arah Patriskiting sampai ke
hidungnya. Dari jejaknya yang tertinggal Patriskiting tahu binatang itu baru
saja berlalu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya tertegun sejenak untuk meminta Uku Pata menjauhkan ular itu juga binatang ganas lainnya, dari tempat yang ia tuju. Cukup lama ia tak
menginjakan kaki di sana. Tumbuhan belukar mulai memenuhi. Patriskiting
mencabut parang lalu menebas,
membersihkan tempat itu.
Selesai menebas,
Patriskiting bergerak ke arah bekas kediaman nenek – moyangnya dulu—goa-goa
yang berada di lereng bukit batu. Mulut
goa-goa itu pun mulai penuh dirambati akar dan tumbuhan menjalar yang menempel
dipermukaan batu bersama lumut-lumut hutan. Dengan parangnya Patriskiting
lalu kembali menebas akar dan tumbuhan
yang menutup mulut goa. Ada banyak goa di lereng bukit itu. Goa-goa besar dan
kecil. Sebagian berada di tebing tertinggi. Tiga goa paling besar berada di
kaki lereng, sekitar pelataran situs.
Dari luar, goa itu
tampak terpisah. Mulut-mulutnya setinggi orang berdiri selebar dua-tiga daun
pintu. Berbekal senter pemberian keponakannya, Patriskiting memasuki goa
pertama. Hawa lembab bercampur aroma lumut basah tercium oleh Patriskiting
setelah berada di mulut goa. Lima belas langkah berjalan, lorong goa pertama
itu berbelok, tembus pada lorong goa kedua dan ketiga. Rupanya, pada kedalaman
sekitar 15 meter, goa-goa itu
tersambungankan oleh lorong besar menyerupai ruangan rumah.
Patriskiting sudah
tak asing dengan goa-goa itu. Sejak kecil ia sudah sering dibawa ke sana oleh
mendiang ayahnya. Dari ayahnya itulah ia tahu bahwa goa-goa itu dulu menjadi
tempat tinggal kakek dari kakek dan nenek dari neneknya Patriskiting dulu,
ratusan tahun lalu. Mereka menjadikan goa-goa itu sebagai tempat tinggal karena
di sekitar goa cukup banyak kekayaan hutan sebagai bekal hidup. Tersembunyi sehingga
cukup aman dari ancaman musuh, suku-suku lain yang kerap menyerang, pada zaman perburuan kepala atau ngayau dulu.
Jejak-jejak masa
lalu itu, beberapa masih ada. Tersimpan
dalam satu lobang pada dinding lorong belakang. Saat cahaya senter Patriskiting
mengarah ke mulut lobang itu, segera tampak tulang belulang, tiga tengkorak
kepala yang sudah nyaris tak berbentuk, dan bebatuan pipih bekas senjata mereka
dulu. Tangan Patriskiting bergerak mengorek-ngorek belulang itu, memisahkan
belulang yang menempel rapat setelah cukup lama bersentuhan, kemudian menatanya
lagi di tempat semula. Tiga tengkorak kepala itu ia letakan di tengah,
dikelilingi belulang dan benda lain yang ada disitu.
Kesunyian
mengambang. Sesaat kemudian terasa
mencekam. Patriskiting duduk di atas batu bulat yang seolah sengaja
disediakan sebagai tempat duduk bagi orang yang datang untuk berziarah ke sana.
Si Tukuk, anjing hitam yang menemani Patriskiting, berbaring menghadap
majikannya. Patriskiting membenahi
posisi duduk. Membungkukan punggung setelah menyatukan pegangan kedua tangan
pada gagang tombak yang dibawanya. Lalu menunduk dengan merapatkan kepala pada
kedua lengannya yang menyatu di gagang bujak.
“Kakek-nenek, saya
datang menjenguk kalian. Karena mimpi yang mencemaskan. Saya takut sesuatu akan
terjadi. Musibah atau bencana menimpa kalian. Menimpa kami. Lindungi kami.
Lindungi hutan kami, sungai kami, ladang
kami, pondok kami,” batin Patriskiting. Berulang-ulang, berulang-ulang, hingga
seruannya itu sampai ke telinga para kakek-nenek moyangnya di sana.
Kelafet (ua-ua) jantan yang sedang kasmaran berhenti memanggil-manggil betina.
Seekor Nyau (elang) yang melesat di
sela daun hendak menyergap punai, melambat lalu melayang dan hinggap di atas
cabang. Burung-burung yang semula riuh berkicau, mendadak diam. Termasuk
sepasang babi hutan, jauh di seberang sana, yang sedang kawin, buru-buru
memisahkan diri dan masuk ke sarang.
Alam telah
menyampaikan getaran pada mereka bahwa pada saat itu roh-roh makhluk hidup baru
saja terjaga. Para penguasa alam baru saja mendengar sebuah permohonan dari
seorang manusia yang selama berpuluh tahun bersahabat dan tulus menyayangi
mereka. Permohonan untuk keselamatan kaum sendiri serta mereka yang ada di alam
luar dan alam dalam. Maka serukanlah permohonan itu agar menjadi doa bersama
sekalian mahkluk hidup.
Patriskiting
merasakan kehadiran kakek-nenek moyangnya. Merasakan kehadiran Sang Pencipta
dan Pemilik Alam dalam keheningan yang terus mengambang sekian waktu lamanya.
Kiting dan Ayum—perempuan yang mengandung dan melahirkannya. Kovung dan Unyu
Arut, kakek dan nenenknya, dan sosok-sosok lain yang wajahnya tak ia kenali
tapi namanya tercatat dalam ingatan Patriskiting sebagai orang tua dan
leluhurnya.
“Kakek-nenek, saya
datang menjenguk kalian. Karena mimpi yang mencemaskan. Saya takut sesuatu akan
terjadi. Musibah atau bencana menimpa kalian. Menimpa kami. Lindungi kami.
Lindungi hutan kami, sungai kami, ladang
kami, pondok kami,” ulang Patriskiting.
Kiting menghampiri
Patriskiting. Memegang dan mengelus pundak anak lelakinya itu.
“Nak, ayah tahu keinginanmu. Sekalipun kamu
tak datang kesini. Kami selalu melihatmu dari sini. Kami mendengar doamu dan
kami ikut menyampaikannya pada Sang Pencipta. Kami selalu meminta agar Uka
Belawin menjaga dan melindungi kalian di sana,”
“Mimpi itu
mencemaskan saya,”
“Ayah tahu.
Begitulah Sang Pencipta memberi kita isyarat. Bukan hanya dalam mimpi.
Sehari-hari kita sering menerima isyarat itu. Kewajiban kita adalah selalu
waspada,”
“Saya khawatir
sesuatu akan datang dan mengganggu tatanan kehidupan kita. Mengganggu kampung
kami dan hutan yang menjadi tempat tinggal kalian,”
“Kakek moyang kita
sudah biasa menghadapi masalah. Selesai juga dihadapi. Masalah itu akan ada
saja. Orang-orang Punan kita akan menghadapi masalah-masalah itu. Nyatanya,
kalian bisa menghadapi itu,”
“Saudara-saudara
kami di bawah sudah banyak yang kehilangan. Kehilangan hutan dan kehidupan.
Mereka datang begitu serakah. Tak seperti bangsa kita,”
“Ya begitulah
kodrat kehidupan. Kalian akan selalu berhadapan dengan bangsa kalian sendiri.
Kalian tahu adat hutan, tetapi mereka tak mau tahu,”
“Lalu kami harus
membiarkan mereka?”
“Siapa pun yang
memang mengganggu tak boleh dibiarkan. Kakekmu dulu memotong kepala orang yang
mau berbuat jahat. Tak peduli saudara atau kawan sendiri. Kita punya senjata.
Tombak, sumpit dan parang. Tapi bukan itu. Kalian sendiri tahu sekarang bukan
masanya kita berperang,”
“Kalau mereka
merusak?”
“Jangan biarkan
mereka merusak agar tak ada
perkelahian atau kematian,”
“Kami akan
melawan?”
“Ya, lawanlah
dengan kebaikan yang kalian punya. Janganlah dengan kejahatan atau kekerasan
sebab itu akan menyengsarakan kita juga,”
“Kalau suatu saat
mereka datang dan mambawa kehancuran, demi langit dan bumi, datangkanlah dewa
petir, dewa hujan, dan dewa angin. Musnahkan mereka para penghancur itu,”
“Meraka tahu dan
mendengarmu. Biarkan mereka bekerja dengan cara sendiri yang tak perlu kita
suruh atau minta-minta. Biarkan itu urusan mereka. Urusan kita sekarang,
jagalah kehidupan itu baik-baik. Lakukan apa yang bisa dilakukan sesuai dengan
kodrat kita,”
“Baik, ayah. Tapi,
bantulah lindungi kami. Lindungi hutan kami, sungai kami, ladang kami, dan pondok kami,”
“Ya. Sekarang
pulanglah. Kasihan orang-orang mencarimu. Mereka kehilangan. Mereka kesusahan
mencarimu,”
Patriskiting
terjaga. Si Tukuk sedang menatapnya. Anjing itu bangkit dan melangkah ke luar
lebih dulu. Diikuti Patriskiting yang jiwanya kini merasa ringan. Dari dalam anjat, sebelum melangkah ke luar, ia
mengambil tiga butir telur ayam kampung dan meletakannya di sisi belulang itu.
“Hanya ini yang bisa saya berikan,” gumamnya lalu berjalan.
Kembali menuju
kampung, saat matahari sudah bergeser jauh ke Barat. Patriskiting melangkah
cepat. Berjalan dalam kelebatan pohon dan tumbuhan, seakan ia sedang berjalan
di atas padang rumput. Saat menuruni lereng hutan yang basah, ia seakan tak merasakan licin.
Melompat di atas bebatuan saat melewati sungai, tubuhnya ringan seperti
melayang.


0 Komentar