Puisi-puisi Karta Widjaya
SAPTAWARA
RADITE
di pelataran pagi
perahu hitam disembunyikan cahaya
menanti
panas dan dingin ditumbuhkan
ketika hari masih dalam kandungan
ahad, sebagian orang menyebutnya. sedang kami menamainya radite, dataran kosong tanpa angin, tunas yang tumbuh sebelum ingin
menunggu
hilir sampai ke hulu
langit dan bumi dipisahkan
oleh kehampaan
dan air
membatasi daratan
perjalanan terhumbalang karena tolakan
kadang tarikan
kita mulai salah langkah
"api memercik dari mataku", ucapmu ketika anggara tercetak di gelombang subuh, "selasa", lanjutmu
karena anggara adalah benih di air, seperti pertama kita ditiupkan
maka di sebuah kampung terbitlah telaga dari sebuah tongkat yang memohon dahaga
ini adalah kesejukan setelah dupa dibakar di kamar puji, kepastian datang dalam tiga hari
tak perlu dinanti
kadang kita hanyalah percik pijar di lamat daratan yang terbingkai pantulan gunung dan gurun. hari keempat adalah buda, hari ketika bebijian bertunas memanggil yang berlari dan melata
tercetaklah sawah berbatas kebun
lalu kandang juga penggembalaan
sebelum maut menggenapkan
angin meramu riak dingin agar kawah gunung membeku, jejak lavanya bersembunyi di jalan misteri, bergradasi dengan pakis dan suplir, bertabir hawa getir. kami menasbihkannya sebagai respati, hari ke lima yang mengeraskan pelupuk hati.
penuhi ruang udara
dendangkan nyanyian purba
boleh trilili juga tralala
bisa juga hula
asal jangan luka
apalagi duka
ini sukra, hari keenam ketika air bertemu air, menyejukan pelupuk mata dan menidurkan gelisah di garis pelipir, pada rasi bintang dieja sebagai jumat tambir, ketika yang bersayap memenuhi udara sambil berzikir
hari penyembuhan
sebelum manahil
gairah yang membakar otak bersiasat menetak segala sebab dan akibat, seolah mencetak esok hari pada tanah liat yang dibakar menjadi bata dan genteng, berkilau dan berdenyar dibatasi benteng. tapi, ini sukra
menerima dengan lega
semua yang tampak dan terasa
sepenuhnya
tak berjeda
waktu berdiam, menadah yang terlahir sedang tersambungkan. angin meriakan air, putik-putik berpindah oleh serangga, semua menggeliat dalam gerak dan warna. "ini sabtu," ucapmu, istirah dari segala ngilu
tak ke timur karena mudah terlihat
tak ke utara menghindari jerat tipu daya
hanya saling menyapa
melalui kebisuan
disamarkan kelam
Kartawijaya, Lulusan Sastra Indonesia Unpad, selain menulis puisi juga bermain keroncong.



0 Komentar