Balalin
(Sebuah Novel Perjalanan)
Bagian I (Sesi 3)
Hutan Marut yang menjadi rumah kediaman nenek moyang
mereka adalah hutan tua yang ada di belantara Borneo Utara. Orang-orang kampung
yang pernah menjelajahi hutan itu tahu, seberapa besar kekayaan hutan tersebut.
Seluruh jenis pohon kayu ada di hutan itu. Hidup sejak ratusan bahkam ribuan
tahun lalu. Pohon ulin, meranti, bengkirai, kapur, adau dan pepohonan rimba lainnya.
Pohon Manggeris atau Lalow dalam
bahasa orang-orang kampung, tumbuh banyak di sana. Pohon tempat
lebah-lebah bersarang dan membuat madu itu, mereka namai sesuai dengan nama nenek moyang
mereka yang sudah meninggal. Dengan harapan, nenek moyang yang namanya tersebut
pada pohon memberi keberkahan pada pohon
dengan dijadikannya tepat oleh banyak
koloni lebah. Lebah-lebah itu mau mengeluarkan madu sebanyak-banyaknya untuk
mereka panen kemudian hari.
Ada juga orang-orang kampung sana yang pergi menjelajahi
hutan itu untuk mendapatkan gaharu. Berminggu-minggu
bahkan berbulan. Sampai menembus ke hutan lain di luar Hutan Marut. Pohon itu memang misterius. Bisa dengan mudah
ditemukan dan kadang sangat sulit. Dalam sekedip mata, jika bukan rezeki si
pencari, pohon yang semula nampak di ujung mata bisa saja seketika lenyap. Jangan girang dulu kalau pun sudah siap ditebang. Lupa melanggar pantangan gubal yang sedianya
ada akan hilang seketika.
Ada satu bagian di hutan itu yang oleh orang-orang
kampung tak pernah di sentuh. Tidak dijadikan ladang perburuan baik binatang
maupun tumbuhan hutan. Yaitu hutan yang
ada di Bukit Marut. Batasannya, sepanjang kaki bukit atau lembah yang mengitari
lereng. Kata Patriskiting, pemilik hikayat, hutan pada bukit itu adalah hutan
terlarang. Tempat roh-roh jahat tinggal. Yang akan membuat malapetaka bagi
siapa saja yang mengusik tempat tersebut. Memungut dan memakan buah jatuh saja
orang akan sakit dan mencerau dengan suara yang menyeramkan. Patriskiting yang
oleh orang-orang kampung dianggap punya kekuatan dan berteman dengan para
roh-roh di sana, tak pernah menyentuh tempat itu.
Ada kisah yang terakhir kali diketahui orang-orang kampung. Kisah yang disebarkan Dolop Mamu, saudara mereka yang sekarang tinggal di kota kabupaten. Serombongan orang dari kota yang melakukan survey ke sana menghilang. Tak diketahui rimbanya. Yang ditemukan para pencari hanya perahu-perahu yang membawa mereka ke sana. Ditemukan, jauh di hilir, di muara sungai. Orang-orang berkesimpulan, mereka meninggal diterkam beruang dan naga yang ada di sana. Sebagian bercerita mereka dimangsa kawanan buaya yang hidup di sungai. Orang-orang Long Simau berkesimpulan bahwa mereka disekap hantu-hantu (roh-roh) jahat bukit Marut karena melanggar aturan. Disekap dan dimakan Kanji’ Anjan alias Irang Lenggang, yang tersebut dalam dongeng orang Punan sebagai makhluk penunggu rimba. Bertubuh tinggi besar. Kulitnya berbulu lebat. Kepalanya seperti kepala manusia tapi mukanya seperti muka beruk. Lengannya seperti lengan beruk dan giginya seperti gigi beruk. (Sesi 3)


0 Komentar